> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://dasepsatria.my.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# RAWAYAN AGUNG - Cakar Bajra dan Bayangan Kujang Hitam
- URL: https://dasepsatria.my.id/rawayan-agung-cakar-bajra-dan-bayangan-kujang-hitam/
- Published: 2026-11-01T12:06:37.000Z
- Updated: 2026-11-01T12:06:37.000Z
- Author: DASEP SATRIANA

### Pertapaan di Ujung Selatan

Jauh di ujung selatan Kerajaan Rawayan Agung, ombak menghantam dinding-dinding karang dengan suara menggelegar. Angin laut bertiup kencang, membawa kabut asin yang menyelimuti tebing-tebing curam. Di antara bebatuan hitam, tersembunyi sebuah gua besar yang mulutnya menghadap langsung ke samudra.

Di dalam gua itu, seorang lelaki tengah bertapa.

Usianya telah melewati tiga puluh lima tahun. Rambutnya panjang sebahu, sebagian diikat dengan kain hitam. Wajahnya keras, dengan garis-garis ketegasan yang menunjukkan bahwa ia bukan orang sembarangan. Ia mengenakan pakaian pendekar zaman kerajaan: baju hitam berlengan panjang, kain yang dililitkan pada pinggang, celana pangsi gelap, serta ikat kepala yang ujungnya menjuntai hingga punggung.

Di hadapannya tertancap sebuah kujang hitam.

Bentuknya menyerupai kujang pusaka dari tanah Sunda, tetapi bilahnya jauh lebih gelap daripada besi biasa. Tidak ada pantulan cahaya pada permukaannya. Justru, benda itu seolah menelan cahaya yang menyentuhnya. Asap hitam tipis merayap di sepanjang bilah, sementara guratan-guratan menyerupai rajah kuno berdenyut redup di pangkalnya.

Lelaki itu duduk bersila, kedua tangannya bertumpu pada lutut. Napasnya nyaris tidak terdengar. Di sekeliling tubuhnya, udara bergetar oleh tekanan tenaga spiritual yang pekat.

Tiba-tiba, suara tanpa wujud menggema dari dinding gua.

“Jaya Antea… saatnya memulai rencanamu.”

Kelopak mata lelaki itu bergerak sedikit.

“Rawayan Agung sudah mulai melemah,” lanjut suara tersebut. “Kujang ini telah mengisap segenap kekuatan spiritual dari rajah pemisah antara alam manusia dan Rawayan. Ikatan yang selama berabad-abad melindungi kerajaan itu kini tidak lagi sempurna.”

Ombak menghantam karang. Gema suaranya terdengar seperti raungan binatang raksasa.

“Sekarang, kau mampu menandingi raja itu.”

Keheningan menyelimuti gua.

Perlahan-lahan, Jaya Antea membuka mata.

Ia menatap kujang hitam di hadapannya. Kemudian, bibirnya membentuk senyum tipis yang menyimpan kebencian bertahun-tahun.

“Jadi, akhirnya tiba juga waktunya.”

Ia mengulurkan tangan dan mencengkeram gagang kujang itu.

Seketika, cahaya di dalam gua meredup.

Aura hitam menyembur dari bilahnya, merambat ke lengan Jaya Antea, kemudian menyelimuti tubuhnya seperti ular yang menemukan sarang. Batu-batu kecil bergetar. Air laut di mulut gua berputar membentuk pusaran yang tidak wajar.

Jaya Antea berdiri.

“Raja Rawayan Agung…” gumamnya. “Nikmatilah sisa waktumu di atas singgasana. Ketika aku datang nanti, tidak akan ada lagi yang mampu melindungimu.”

Ia menyarungkan kujang hitam di pinggangnya.

Di luar gua, seekor burung laut yang terbang melintas mendadak jatuh ke permukaan air. Bayangannya menghilang sebelum tubuhnya menyentuh ombak.

Jaya Antea tertawa pelan.

Rencananya telah dimulai.

Dan di tempat yang jauh dari sana, tanpa diketahui siapa pun, rajah pemisah dua dunia kembali mengalami keretakan.

### Putri Mahkota di Warung Desa

Sementara itu, di sebuah desa yang terletak tidak jauh dari ibu kota Rawayan Agung, suasana siang terasa hangat dan damai.

Desa itu berdiri di antara hamparan sawah, kebun, serta pepohonan yang tumbuh subur di lereng perbukitan. Rumah-rumah kayu beratap ijuk berjajar di sepanjang jalan berbatu. Asap tipis mengepul dari dapur penduduk, bercampur dengan aroma rempah yang berasal dari sebuah warung makan di tepi jalan.

Di salah satu meja kayu, seorang gadis muda tengah menikmati hidangannya.

Wajahnya ayu dan rupawan. Kulitnya bersih, sorot matanya tajam, dan rambut hitamnya tersusun rapi di balik hiasan kepala sederhana. Ia mengenakan pakaian khas pendekar perempuan zaman kerajaan: atasan berwarna merah tua dengan sulaman keemasan, kain panjang yang dililitkan pada pinggang, celana pangsi hitam, serta ikat pinggang tempat terselip sebilah pedang pendek.

Meski pakaiannya sederhana dibandingkan busana penghuni istana, sikap duduk dan pembawaannya menunjukkan bahwa ia terbiasa memerintah.

Gadis itu bernama Nyi Mas Purbasari, putri mahkota sekaligus satu-satunya keturunan Raja Rawayan Agung.

Di sebelah kanannya duduk Kinasih, seorang perempuan muda dengan rambut yang diikat tinggi. Wajahnya terlihat tenang, tetapi matanya selalu mengawasi keadaan sekitar. Di punggungnya tergantung sepasang senjata pendek yang biasa digunakan dalam pertarungan jarak dekat.

Sementara itu, Katumbiri duduk di sisi kiri Purbasari. Ia memiliki sorot mata yang lebih tajam, dengan selendang biru gelap melilit bahunya. Sebilah golok ramping terselip di pinggangnya, dan gelang-gelang logam menghiasi kedua pergelangan tangannya.

Keduanya bukan pelayan biasa. Mereka adalah kinasih dan pengawal pribadi sang putri mahkota, dua pendekar perempuan yang terkenal memiliki kesaktian mandraguna.

“Putri, bukankah kita seharusnya sudah kembali sebelum matahari melewati puncak?” tanya Kinasih.

Purbasari mengunyah makanannya dengan santai.

“Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa perjalanan jauh membuat perut kosong?”

“Itu benar, Putri. Tetapi jika Baginda mengetahui kita mampir tanpa pemberitahuan, beliau mungkin akan mengirim satu pasukan untuk menjemput kita.”

Katumbiri tertawa kecil.

“Kalau begitu, biarkan saja. Setidaknya para prajurit itu bisa ikut menikmati masakan di sini.”

Purbasari menggeleng sambil tersenyum.

“Kalian berdua ini. Bahkan ketika sedang makan, yang dibicarakan tetap saja urusan istana.”

“Karena kami bertugas memastikan Putri tetap aman,” jawab Kinasih.

“Dan memastikan Putri tidak melakukan sesuatu yang membuat Baginda pusing,” sambung Katumbiri.

Purbasari meletakkan sendoknya, lalu menatap Katumbiri dengan pura-pura kesal.

“Kalau begitu, mulai sekarang kalian berdua tidak perlu makan. Cukup mengawasi saja.”

Ketiganya tertawa.

Untuk beberapa saat, mereka hanyalah tiga gadis muda yang menikmati makanan di sebuah warung desa, jauh dari kerumitan istana dan urusan kerajaan.

Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.

Mula-mula, seekor ayam berlari tunggang-langgang melintasi halaman warung. Kemudian, burung-burung yang bertengger di pepohonan mendadak beterbangan ke segala arah.

Angin berhenti.

Asap dari tungku warung tidak lagi bergerak ke atas, melainkan melayang mendatar, seolah tertahan oleh dinding tak kasatmata.

Purbasari berhenti mengunyah.

Kinasih langsung berdiri.

“Putri…”

“Aku merasakannya,” jawab Purbasari pelan.

Dari kejauhan terdengar suara seperti kayu patah, disusul lolongan yang tidak menyerupai suara binatang mana pun yang dikenal penduduk desa.

Tanah bergetar.

Seorang pedagang menjatuhkan keranjangnya. Beberapa warga bergegas keluar dari rumah, tetapi mereka segera membeku ketika melihat kabut kelabu merayap dari ujung jalan.

Di dalam kabut itu, bayangan-bayangan bergerak.

Bukan manusia.

Bukan pula hewan biasa.

Mereka datang dengan langkah-langkah pincang, tubuh kurus, wajah menyeramkan, dan mata yang menyala merah. Ada yang bertelinga panjang, ada yang memiliki kuku setajam pisau, dan ada pula yang tubuhnya seperti terbuat dari asap hitam.

Bangsa siluman.

Selama berabad-abad, Rawayan Agung memang berada di alam gaib. Namun, kerajaan itu memiliki aturan dan batas wilayah yang membuat gangguan dari bangsa siluman liar relatif jarang terjadi di permukiman manusia.

Karena itulah, kemunculan mereka di tengah hari merupakan pertanda buruk.

Seorang penduduk berteriak.

“Siluman! Siluman datang!”

Purbasari bangkit dari kursinya.

Senyum di wajahnya lenyap.

“Semua warga menjauh dari jalan! Bawa anak-anak dan orang tua ke dalam rumah!”

Suara sang putri lantang, tegas, dan mengandung wibawa yang membuat orang-orang segera bergerak.

Katumbiri mencabut goloknya.

“Sepertinya makan siang kita sudah selesai.”

Kinasih merenggangkan jemarinya. Udara di sekitar tangannya bergetar, memunculkan kilatan cahaya keemasan.

“Kalau begitu, mari kita ajari mereka agar tidak sembarangan mengganggu desa ini.”

Purbasari menghunus pedang pendeknya.

“Jangan biarkan satu pun mendekati warga.”

Dari balik kabut, terdengar suara tawa yang melengking.

Lalu, sesosok makhluk bertubuh seperti kera melompat ke atas atap sebuah rumah.

Ia memiliki bulu kelabu gelap, wajah menyerupai monyet tua, serta sepasang mata kuning yang menyala. Sebuah tongkat panjang berwarna cokelat kehitaman berada di tangannya.

Makhluk itu memutar tongkatnya satu kali.

Duuum!

Atap rumah bergetar ketika ia mendarat.

“Sudah lama sekali sejak aku mencium bau ketakutan manusia sebanyak ini,” katanya dengan suara parau. “Rupanya desa kecil ini menyimpan banyak mangsa yang menarik.”

Purbasari mengangkat pedangnya.

“Siapa kau, siluman?”

Makhluk kera itu menyeringai.

“Namaku tidak penting bagi orang yang akan segera berlutut di hadapanku.”

Ia mengangkat tongkatnya ke arah sang putri.

“Yang penting, hari ini kalian akan belajar bahwa Rawayan Agung bukan lagi tempat yang aman.”

### Amukan Bangsa Siluman

Siluman kera itu menghentakkan tongkatnya ke atap rumah.

“Anak-anakku! Ambil semua yang berharga! Hancurkan siapa pun yang menghalangi!”

Puluhan jin kelas bawah menyerbu dari balik kabut.

Sebagian melompat ke arah warung, sebagian menerjang penduduk yang berlarian, sedangkan yang lain mengayunkan cakar ke arah siapa saja yang mereka temui. Bangku-bangku kayu terbalik. Tempayan pecah. Hidangan yang beberapa saat lalu masih mengepul kini berserakan di tanah.

Seorang jin berwajah pucat menerjang seorang anak kecil yang terpisah dari ibunya.

“Jangan sentuh anak itu!”

Katumbiri melesat.

Tubuhnya bergerak rendah, hampir menyentuh tanah. Ketika jin itu mengayunkan cakarnya, Katumbiri memiringkan tubuh dan membiarkan serangan tersebut melewati bahunya. Tangan kirinya menangkap pergelangan lawan, sedangkan tangan kanannya menghantam bagian dada makhluk itu dengan telapak terbuka.

Duar!

Jin itu terpental menabrak gerobak kosong.

Katumbiri segera menggendong anak kecil tersebut dan menyerahkannya kepada seorang perempuan yang berlari menghampiri.

“Bawa dia pergi! Jangan kembali ke sini!”

Belum selesai ia berbicara, dua jin lain telah melompat dari sisi bangunan.

Katumbiri berputar. Goloknya terhunus dalam satu gerakan.

Jin pertama mengayunkan cakar. Katumbiri menangkis menggunakan sisi golok, lalu memutar pergelangan tangannya hingga senjata itu menyapu ke arah kaki lawan. Jin tersebut kehilangan keseimbangan. Sebuah tendangan menyusul, menghantam tubuhnya hingga terlempar ke jalan.

Jin kedua mencoba menyerang dari belakang.

Katumbiri merasakan perubahan angin di dekat tengkuknya. Ia merunduk, membiarkan kuku-kuku lawan melewati kepalanya, kemudian menghentakkan tumit ke tanah.

Gelang logam di pergelangan tangannya bergetar.

“Pecut Bayu!”

Angin berputar mengelilingi tubuhnya, membentuk pusaran pendek yang menghantam jin tersebut dari samping. Makhluk itu terpelanting, tubuhnya pecah menjadi asap kelabu sebelum menghilang.

Sementara itu, Kinasih telah menghadapi lima jin sekaligus.

Ia tidak membawa senjata panjang. Kedua tangannya kosong, tetapi setiap gerakannya mengandung kekuatan yang membuat lawan enggan mendekat.

Jin pertama menerjang dengan kedua cakar terbuka.

Kinasih menggeser kaki ke luar, menepis salah satu lengannya, lalu memukul bagian perutnya. Sebelum makhluk itu terjatuh, ia memutar tubuh dan menghantam rahang lawan dengan siku.

Jin kedua dan ketiga datang bersamaan.

Kinasih melompat ke atas bangku, menggunakan ketinggian itu untuk menghindari serangan mereka. Ia berputar di udara, mendarat di antara keduanya, lalu menghentakkan kedua telapak tangannya.

Dua gelombang tenaga keemasan menyebar.

Kedua jin terpental ke arah berlawanan.

Namun, jin keempat telah menunggunya. Makhluk itu mengayunkan rantai hitam yang melilit lengannya.

Kinasih mengangkat tangan untuk menangkis, tetapi rantai tersebut melilit pergelangan tangannya dan menariknya ke depan.

“Ketangkap!”

Jin itu membuka mulutnya lebar-lebar.

Sebelum giginya sempat mencapai wajah Kinasih, gadis itu justru tersenyum.

“Siapa bilang?”

Ia memutar tubuh mengikuti tarikan rantai. Gerakan itu membuat lawannya kehilangan keseimbangan. Kinasih menarik rantai ke bawah, lalu menghantamkan lutut ke tubuh jin tersebut.

Makhluk itu tertekuk.

Kinasih melepaskan rantai, mengangkat tangan, kemudian menempelkan dua jari pada dahi lawannya.

“Pergilah.”

Kilatan cahaya menyambar.

Jin tersebut lenyap dalam kepulan asap.

Di sisi lain jalan, Purbasari berhadapan dengan sekelompok jin yang mencoba menerobos ke halaman rumah penduduk.

Ia berdiri di tengah jalan, pedang pendeknya terangkat. Wajahnya tidak lagi menunjukkan keceriaan seperti ketika sedang makan.

“Selama aku masih berdiri di sini,” katanya, “kalian tidak akan menyentuh seorang pun di desa ini.”

Jin bertubuh besar melompat dari atas pagar.

Purbasari bergerak menyamping. Pedangnya menyambar dalam lengkungan pendek, bukan untuk membunuh, melainkan memutus aliran tenaga yang menyelimuti tubuh lawannya.

Makhluk itu menjerit dan jatuh berlutut.

Dua jin lain menyerang dari depan. Purbasari mengangkat pedangnya untuk menangkis cakar yang pertama, kemudian memutar gagang senjata untuk memukul pergelangan lawan kedua.

Ketika keduanya kehilangan keseimbangan, ia menginjak tanah dengan kaki kanannya.

“Harimau Ngamuk!”

Aura keemasan menyelimuti tubuhnya.

Bayangan seekor harimau raksasa muncul sesaat di belakang sang putri. Raungannya mengguncang jalan desa, membuat para jin kelas bawah mundur dengan ketakutan.

Purbasari melesat maju.

Gerakannya tidak banyak membuang tenaga. Setiap langkah membawa dirinya ke posisi yang menguntungkan, setiap tangkisan mengalihkan serangan lawan, dan setiap pukulan diarahkan pada titik yang membuat lawannya kehilangan kemampuan bertarung.

Dalam waktu singkat, beberapa jin terlempar ke tanah dan sisanya tercerai-berai.

Penduduk desa yang menyaksikan dari balik pintu dan jendela mulai berani keluar.

Namun, pertarungan belum selesai.

Siluman kera yang sejak tadi mengamati dari atas atap akhirnya turun ke jalan.

Ia mendarat dengan satu lutut, lalu memutar tongkatnya.

“Menarik,” gumamnya. “Tiga perempuan muda yang memiliki ilmu warisan Pajajaran.”

Purbasari mengarahkan pedangnya.

“Kalau kau pemimpin mereka, menyerahlah sekarang.”

Siluman kera itu tertawa.

“Menyerah? Kepada manusia?”

Ia menghantamkan tongkatnya ke tanah.

Gelombang tenaga hitam menyebar, membuat batu-batu di jalan terangkat. Purbasari segera melompat mundur, sedangkan Kinasih dan Katumbiri bergerak ke sisi kanan dan kiri untuk menghindari hantaman.

Siluman kera itu menyerang Purbasari terlebih dahulu.

Tongkatnya menyambar dari atas. Purbasari menahan dengan pedangnya, tetapi benturan tersebut membuat lengannya bergetar hebat.

Makhluk itu mengayunkan tongkatnya lagi, kali ini dari samping.

Purbasari merendahkan tubuh. Tongkat tersebut menghantam tiang rumah di belakangnya hingga kayunya patah.

Sebelum siluman itu sempat menarik kembali senjatanya, Purbasari menusukkan pedangnya ke arah tubuh lawan.

Namun, siluman kera memutar tongkat dan menepis serangan itu dengan mudah.

“Cepat juga kau, Putri kecil.”

Purbasari tertegun.

“Bagaimana kau tahu—”

Tongkat itu menyapu ke arah pinggangnya.

Ia segera melompat mundur, tetapi ujung tongkat masih menghantam pelindung pinggangnya. Tubuhnya terdorong beberapa langkah sebelum berhasil menstabilkan diri.

Katumbiri dan Kinasih langsung bergerak membantu.

Katumbiri menyerang dari sisi kanan dengan tebasan mendatar, sementara Kinasih menerjang dari kiri dengan pukulan bertenaga. Siluman kera memutar tongkatnya begitu cepat hingga membentuk lingkaran pertahanan.

Ting!

Golok Katumbiri terpental.

Duk!

Pukulan Kinasih tertahan oleh batang tongkat.

Makhluk itu kemudian melompat mundur ke atas pagar.

Ketiganya bersiap menyerang lagi.

Namun, siluman kera itu hanya mengangkat sebelah tangan.

“Cukup untuk hari ini.”

Jin-jin yang tersisa segera berkumpul di belakangnya.

Katumbiri mengerutkan kening.

“Kau menyerah?”

Siluman kera menyeringai lebar.

“Tidak, gadis kecil. Aku hanya sudah mendapatkan apa yang kuinginkan.”

Ia mengangkat tongkatnya ke langit.

Kabut kelabu kembali menggulung. Dalam beberapa detik, tubuhnya dan para pengikutnya tertelan bayangan, meninggalkan jalan yang porak-poranda.

Sebelum menghilang sepenuhnya, suaranya terdengar dari balik kabut.

“Ini baru permulaan.”

Purbasari menggenggam pedangnya lebih erat.

Ia tidak menyukai satu hal dari pertarungan tadi.

Siluman itu tidak bertarung seperti makhluk yang ingin menaklukkan desa. Ia seolah sedang mengukur kekuatan mereka.

Dan seseorang mungkin sedang mengukur kekuatan Rawayan Agung.

### Pemuda Asing di Tepi Jalan

Setelah kabut menghilang, suasana desa perlahan kembali tenang.

Warga keluar dari rumah masing-masing. Beberapa membantu memperbaiki warung, sementara yang lain menolong penduduk yang terluka ringan. Pemilik warung yang tadi menjadi tempat makan Purbasari berulang kali membungkuk di hadapan ketiga perempuan itu.

“Terima kasih, Gusti Putri. Terima kasih karena telah menyelamatkan kami.”

Purbasari menyarungkan pedangnya.

“Jangan berterima kasih kepadaku saja. Pastikan warga yang terluka mendapatkan pertolongan. Kita juga harus melaporkan serangan ini kepada pihak kerajaan.”

Kinasih membantu seorang lelaki tua berdiri. Katumbiri memeriksa sisa-sisa kabut yang masih melekat di dekat pagar.

Tiba-tiba, perhatiannya tertuju pada seorang pemuda yang berdiri tidak jauh dari sana.

Pemuda itu mengenakan pakaian sederhana berwarna kelabu. Rambutnya hitam, wajahnya bersih, dan postur tubuhnya menunjukkan bahwa ia terbiasa berlatih bela diri. Tidak ada tanda-tanda pakaian kebesarannya berasal dari kalangan bangsawan Rawayan Agung.

Namun, yang paling menarik perhatian Katumbiri adalah wajahnya.

Ada sesuatu yang berbeda pada pemuda itu. Bentuk wajah, warna kulit, serta sorot matanya tidak menyerupai kebanyakan penduduk Rawayan Agung yang biasa ditemuinya.

Pemuda itu juga tidak terlihat terkejut oleh kejadian barusan. Ia justru sedang berbicara dengan seorang pedagang, seolah-olah serangan bangsa siluman tadi hanyalah gangguan kecil dalam perjalanan.

Katumbiri menyipitkan mata.

“Putri, lihat orang itu.”

Purbasari menoleh.

“Yang mana?”

“Pemuda di dekat pohon itu.”

Kinasih mengikuti arah pandang Katumbiri.

“Dia terlihat seperti orang biasa.”

“Itulah masalahnya,” jawab Katumbiri. “Aku belum pernah melihat orang dengan ciri seperti itu di wilayah ini.”

Purbasari memperhatikan pemuda tersebut dari kejauhan.

“Bisa saja dia pendatang dari desa lain.”

“Kalau begitu, mengapa dia tidak terlihat ketakutan ketika bangsa siluman menyerang?”

Kinasih menggeleng.

“Belum tentu itu berarti dia berbahaya.”

Katumbiri tidak segera menjawab. Ia mengingat sesuatu yang membuatnya semakin curiga: serangan siluman itu muncul secara tiba-tiba, tepat ketika mereka sedang berada di desa.

Bagaimana jika ada seseorang yang mengetahui keberadaan mereka?

Bagaimana jika pemuda asing itu adalah bagian dari rencana untuk mengalihkan perhatian sang putri?

“Putri,” ujar Katumbiri akhirnya, “izinkan aku memeriksanya.”

Purbasari menghela napas.

“Periksa boleh. Tetapi jangan bertindak gegabah.”

Katumbiri tersenyum tipis.

“Aku hanya ingin bertanya.”

Kinasih memandangnya dengan ekspresi tidak percaya.

“Kalau kau mengatakan begitu, biasanya justru akan terjadi sesuatu.”

“Tenang saja.”

Katumbiri melangkah menuju pemuda tersebut.

Kinasih dan Purbasari saling pandang, kemudian mengikuti dari belakang.

Pemuda yang mereka curigai itu tidak lain adalah Kamandaka.

Ia baru saja menyelesaikan urusannya di desa ketika serangan siluman terjadi. Ia sempat membantu beberapa warga menyelamatkan barang-barang mereka, tetapi memilih tidak ikut bertarung karena ketiga pendekar perempuan itu telah mengatasi sebagian besar ancaman.

Kamandaka bahkan belum sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi ketika Katumbiri berdiri tepat di hadapannya.

“Hei, kau!”

Kamandaka menoleh.

“Ya?”

“Siapa namamu?”

“Kamandaka.”

“Dari desa mana?”

Kamandaka mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Katumbiri menyilangkan tangan.

“Aku yang bertanya.”

Kamandaka menatapnya beberapa saat, lalu menjawab dengan tenang.

“Aku sedang dalam perjalanan. Kalau kau ingin mengetahui sesuatu, bukankah lebih baik bertanya dengan sopan?”

Kinasih menahan senyum kecil. Purbasari justru mulai merasa bahwa Katumbiri akan kehilangan kesabarannya.

Benar saja.

Wajah Katumbiri berubah.

“Jadi, kau berani mengajariku sopan santun?”

“Tidak. Aku hanya menjawab pertanyaanmu.”

“Kau berada di desa ini saat bangsa siluman menyerang. Wajahmu asing, asal-usulmu tidak jelas, dan kau terlihat terlalu tenang. Apa hubunganmu dengan mereka?”

Kamandaka terdiam sesaat.

Lalu ia menghela napas.

“Tidak ada.”

“Buktikan.”

“Bagaimana caranya?”

“Lawan aku.”

Kamandaka berkedip.

“Apa?”

Katumbiri mencabut goloknya.

“Aku akan mengetahui siapa dirimu dari cara kau bertarung.”

Kamandaka mengangkat kedua tangan, berusaha menunjukkan bahwa ia tidak berniat mencari masalah.

“Tunggu dulu. Aku tidak ingin berkelahi dengan perempuan.”

Kalimat itu membuat suasana mendadak hening.

Kinasih mengangkat alis.

Purbasari memejamkan mata sejenak, seolah sedang mempersiapkan diri menghadapi masalah yang tak terhindarkan.

Katumbiri tersenyum dingin.

“Bagus. Berarti kau tidak akan keberatan jika aku membuatmu berlutut.”

### Tiga Harimau Melawan Satu Pendekar

Katumbiri menyerang tanpa peringatan.

Goloknya menyambar dari samping, mengarah ke bahu Kamandaka. Pemuda itu menggeser tubuh, menghindari tebasan dengan gerakan sederhana.

Katumbiri segera membalikkan goloknya dan menyerang lagi.

Kamandaka menangkis menggunakan lengan bawah, memutar pergelangan tangan lawan, lalu mendorongnya menjauh tanpa menyakitinya.

Katumbiri terhuyung satu langkah.

Matanya membesar.

Gerakan itu bukan gerakan orang biasa.

“Jadi, kau memang punya ilmu!”

“Aku sudah bilang, aku tidak ingin bertarung!”

Kamandaka mundur.

Namun, Katumbiri justru semakin yakin bahwa pemuda itu menyembunyikan sesuatu.

Ia menyerang lagi, kali ini dengan rangkaian tebasan cepat. Goloknya menyambar dari atas, beralih ke samping, kemudian menusuk ke depan.

Kamandaka menghindari setiap serangan dengan gerakan yang efisien. Kaki kanannya bergeser, bahunya berputar, dan tangannya sesekali menepis pergelangan Katumbiri.

Ia menggunakan dasar-dasar Cimande: mengalihkan tenaga lawan, menjaga jarak, dan mencari celah tanpa harus membalas dengan serangan berlebihan.

Tetapi Katumbiri bukan pendekar sembarangan.

Ia memutar goloknya, mengubah arah serangan secara tiba-tiba, lalu menghantamkan lutut ke arah perut Kamandaka.

Kamandaka menahan serangan itu dengan siku dan melompat mundur.

“Cukup, kan?” katanya.

“Belum!”

Katumbiri kembali menerjang.

Kinasih akhirnya ikut bergerak.

“Katumbiri, mundur. Biar aku yang memeriksanya.”

“Tidak perlu. Aku bisa mengatasinya.”

Kinasih sudah berdiri di sisi kiri Kamandaka.

“Kalau begitu, jangan marah jika aku ikut membantu.”

Sebelum Kamandaka sempat menjawab, Kinasih melancarkan pukulan ke arah bahunya.

Kamandaka menghindar.

Namun, serangan Katumbiri datang bersamaan dari sisi kanan.

Ia terpaksa menurunkan tubuh, membiarkan kedua serangan melewati kepalanya. Dengan satu gerakan menyilang, ia menggeser posisi kedua perempuan itu sehingga mereka hampir bertabrakan.

Katumbiri melompat mundur sambil mendecakkan lidah.

Kinasih justru tersenyum.

“Menarik.”

“Jangan bilang kau juga ingin mencoba,” ujar Kamandaka.

“Sayangnya, iya.”

Kinasih mengangkat kedua tangannya. Aura keemasan mulai menyelimuti jemarinya.

Purbasari yang sejak tadi mengawasi akhirnya maju.

“Cukup. Aku ingin tahu sendiri siapa pemuda ini.”

Kamandaka memandang ketiganya bergantian.

“Sebentar. Kalian bertiga akan menyerangku sekaligus?”

Purbasari menghunus pedang pendeknya.

“Kalau kau tidak bersalah, kau tidak perlu takut.”

Kamandaka memandang pedang itu, kemudian menatap wajah Purbasari.

“Logika macam apa itu?”

Namun, ketiganya telah bergerak.

Purbasari menyerang dari depan dengan tebasan terukur. Kinasih menyusul dari kiri, sedangkan Katumbiri bergerak memutar untuk menutup jalur mundur.

Mereka bertarung dengan gaya harimau warisan Pajajaran: langkah rendah, gerakan menyergap, serangan beruntun, serta kemampuan membaca celah lawan seperti pemangsa yang mengincar mangsanya.

Kamandaka segera menyadari bahwa mereka memiliki kerja sama yang luar biasa.

Purbasari mengendalikan arah pertarungan. Kinasih memaksa lawan bertahan melalui serangan bertenaga. Katumbiri memanfaatkan setiap celah untuk melancarkan serangan dari sudut yang tidak terduga.

Kamandaka menghindari pedang Purbasari, tetapi Kinasih telah menunggu di belakangnya.

Pukulan Kinasih menghantam lengannya.

Duk!

Kamandaka terdorong ke samping.

Katumbiri menyusul dengan tendangan rendah. Ia melompat menghindarinya, tetapi Purbasari telah mengarahkan ujung pedangnya ke tempat ia akan mendarat.

Kamandaka memutar tubuh di udara dan menapak pada batu di sisi jalan.

“Baiklah,” gumamnya. “Kalian memang tidak bisa diajak bicara.”

Ia mulai bergerak lebih cepat.

Kaki Kamandaka menjejak tanah, tubuhnya melesat ke sisi Purbasari. Tangan kirinya menepis lengan yang memegang pedang, sementara tangan kanannya mengarahkan dorongan ke bahu sang putri.

Purbasari segera berputar, memanfaatkan momentum untuk menjauh.

Namun, Kamandaka tidak mengejarnya. Ia justru berbalik menghadapi Kinasih yang datang dengan pukulan lurus.

Ia menggeser tubuh, menangkap pergelangan tangan Kinasih, lalu memutar tubuh untuk mengalihkan tenaga serangannya.

Kinasih hampir terjatuh, tetapi segera menumpukan kaki dan melompat mundur.

Katumbiri menyerang lagi.

Kamandaka menangkis goloknya dengan lengan, lalu mengunci pergelangan tangan lawan selama sesaat. Ia bisa saja menjatuhkannya, tetapi memilih melepaskan pegangan dan mundur.

Gerakan itu membuat Katumbiri semakin kesal.

“Jangan meremehkanku!”

“Aku justru berusaha tidak melukaimu!”

“Banyak bicara!”

Katumbiri mengayunkan goloknya dengan kekuatan penuh.

Kamandaka menghindar. Tebasan itu menghantam sebuah tiang kayu hingga retak.

Purbasari memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerang dari belakang.

Kamandaka memiringkan tubuh, menangkis pedangnya dengan telapak tangan yang dilapisi tenaga dalam. Benturan itu menghasilkan suara nyaring.

Kinasih menyusul dengan tendangan berputar.

Kamandaka mengangkat lengan untuk menahan serangan tersebut, tetapi tenaga tendangan itu membuatnya terdorong beberapa langkah.

Ia akhirnya terpojok di dekat sebongkah batu besar di tepi jalan.

Ketiganya mengepungnya.

Katumbiri berdiri di kanan, Purbasari di depan, sedangkan Kinasih berada di kiri. Ketiganya mengatur napas, bersiap melancarkan serangan berikutnya.

Kamandaka mengangkat kedua tangan.

“Tunggu! Aku bisa menjelaskan semuanya!”

“Jelaskan setelah kau menyerah!” bentak Katumbiri.

“Bagaimana aku bisa menjelaskan kalau kalian tidak memberiku kesempatan?”

Purbasari mengangkat pedangnya.

“Kalau kau memang tidak bersalah, berhentilah menghindar dan tunjukkan kemampuanmu!”

Kamandaka menatap langit sesaat.

“Guru, seandainya Guru melihat keadaan ini…”

Ia menghela napas panjang.

“Kenapa setiap kali bertemu orang, aku selalu harus berkelahi?”

### Kinasih menurunkan tubuhnya. Kedua tangannya mengepal. Aura keemasan yang tadi menyelimuti jemarinya kini berubah menjadi cahaya putih kekuningan yang lebih padat. Udara di sekitarnya bergetar, sementara butiran debu di tanah bergerak menjauh dari telapak kakinya.

Purbasari segera memahami maksudnya.

“Kin, jangan gunakan itu kecuali diperlukan!”

“Dia terlalu sulit ditangkap, Putri.”

Kinasih memusatkan seluruh tenaganya pada jari-jari tangan kanan.

Satu demi satu, ruas jarinya mengeras oleh tenaga dalam. Cahaya yang menyelimutinya membentuk lengkungan menyerupai cakar harimau. Di antara jemarinya muncul kilatan tajam, seperti logam yang baru ditempa.

Katumbiri menelan ludah.

“Cakar Bajra…”

Itulah ilmu pamungkas Kinasih.

Sebuah jurus yang memusatkan tenaga spiritual pada jari-jari tangan hingga daya hancurnya menyerupai senjata bajra para dewa. Dalam legenda perguruan tua Pajajaran, jurus itu mampu meremukkan batu dan menghancurkan pertahanan tenaga dalam lawan jika dilepaskan dengan kekuatan penuh.

Kinasih melangkah maju.

Kamandaka menatap jemari bercahaya itu.

Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, senyum tipis menghilang dari wajahnya.

Ia tahu serangan itu berbahaya.

“Kinasih, jangan!” seru Purbasari.

Namun, Kinasih sudah melesat.

Gerakannya begitu cepat hingga bayangan tubuhnya tertinggal sesaat di belakang. Lima jari tangan kanannya terbuka, mengarah tepat ke dada Kamandaka.

Jarak mereka semakin dekat.

Sepuluh sentimeter.

Lima sentimeter.

Satu sentimeter.

Tepat ketika ujung jemari Kinasih hampir menyentuh tubuhnya, Kamandaka menggerakkan kaki kanan dan memutar bahu.

Kilat Bajra!

Tubuhnya berkedip.

Bukan sekadar melompat atau menghindar. Dalam satu kedipan mata, sosoknya seolah terlepas dari ruang yang ditempatinya.

Cakar Bajra menghantam udara kosong.

Sesaat kemudian—

BRAAAK!

Batu besar yang berada tepat di belakang Kamandaka hancur berkeping-keping. Retakan menjalar dari titik benturan, kemudian seluruh bongkah batu itu runtuh menjadi serpihan yang beterbangan.

Debu memenuhi udara.

Kinasih terdiam dengan tangan masih terulur.

Katumbiri membelalakkan mata.

Purbasari menurunkan pedangnya sedikit.

Pemuda itu telah menghilang.

Tidak ada jejak langkah. Tidak ada suara lompatan. Bahkan aliran tenaga yang biasanya tertinggal setelah seseorang menggunakan ilmu kanuragan nyaris tidak terasa.

Lalu, sebuah suara terdengar dari belakang mereka.

“Waduh…”

Ketiganya berbalik serentak.

Kamandaka berdiri beberapa langkah di belakang Purbasari dan Katumbiri, sambil mengibaskan debu dari bahunya.

Ia memandang ketiga perempuan itu dengan ekspresi lelah.

“Ternyata semua perempuan menakutkan.”

Katumbiri langsung memutar tubuh.

“Kau!”

Kamandaka mengangkat kedua tangannya.

“Nah, mulai lagi.”

Purbasari menatapnya tajam.

“Siapa sebenarnya dirimu? Ilmu apa yang baru saja kau gunakan?”

Kamandaka memandang mereka bergantian.

“Aku sudah mencoba menjelaskan sejak tadi. Kalian tidak memberiku kesempatan.”

Ia menghela napas, lalu menggeleng.

“Nampaknya akan sia-sia jika aku jelaskan. Lebih baik aku pergi.”

Katumbiri melangkah maju.

“Jangan bergerak!”

Kamandaka tersenyum tipis.

“Maaf, aku tidak bisa memenuhi permintaan itu.”

Ia merendahkan tubuh sedikit.

Kinasih segera menyadari perubahan aliran tenaga di sekitarnya.

“Putri, awas!”

Terlambat.

Tubuh Kamandaka berkedip sekali, seperti kilatan petir yang menyambar di antara pepohonan.

Dalam sekejap, ia menghilang tanpa jejak.

Tidak ada asap. Tidak ada cahaya yang tersisa. Hanya hembusan angin yang menggerakkan dedaunan di jalan desa.

Ketiganya berdiri membisu.

Katumbiri mengepalkan tangan.

“Dia kabur!”

Kinasih menatap serpihan batu yang berserakan.

“Tidak. Dia tidak sekadar kabur. Kecepatannya bahkan melampaui apa yang bisa kulihat.”

Purbasari masih memandang tempat pemuda itu menghilang.

Ada sesuatu pada dirinya yang terasa ganjil. Ia tidak seperti pendekar biasa, tetapi juga tidak menunjukkan niat membunuh. Sepanjang pertarungan, pemuda itu berkali-kali memiliki kesempatan untuk melukai mereka, namun selalu memilih menghindar.

“Siapa sebenarnya Kamandaka?” gumamnya.

Tidak seorang pun menjawab.

Jauh di balik pepohonan, Kamandaka telah berhenti di atas sebuah batu besar. Ia menoleh ke arah desa, memastikan ketiga perempuan itu tidak mengejarnya.

Kemudian ia mengusap wajahnya.

“Dua tahun belajar kanuragan, ternyata belum cukup untuk menghadapi tiga perempuan sekaligus.”

Ia menggeleng pelan, lalu melanjutkan perjalanan menuju pondok sang Pandita.

Tanpa ia ketahui, pertemuannya dengan putri mahkota dan kedua pengawalnya telah mengubah arah takdirnya.

Sebab, di istana Rawayan Agung, Raja baru saja menerima laporan tentang serangan bangsa siluman di desa tersebut. Pada saat yang sama, sebuah getaran asing kembali terasa pada rajah pemisah dua dunia.

Dan jauh di ujung selatan, Jaya Antea menggenggam kujang hitamnya sambil menatap langit yang semakin gelap.

“Biarkan mereka saling mencurigai,” bisiknya. “Semakin kacau Rawayan Agung, semakin dekat waktuku.”

Kujang hitam itu berdenyut.

Dari bilahnya, bayangan pekat menjalar seperti akar yang merambat di bawah tanah.

Bersambung