RAWAYAN AGUNG — Tujuh Cakra Biru

RAWAYAN AGUNG — Tujuh Cakra Biru

Utusan dari Istana

Suara derap kuda terdengar semakin dekat. Di depan pondok kayu yang tersembunyi di balik kabut, tujuh prajurit kerajaan berdiri dengan tombak terhunus. Lambang kerajaan Rawayan Agung terukir pada pelindung dada mereka.

Sang Pandita keluar dari pondok dengan langkah tenang. Jubah putihnya bergerak pelan diterpa angin, sementara tongkat kayu hitam berada di tangan kanannya.

“Pandita,” ujar salah seorang prajurit yang tampak sebagai pemimpin rombongan. “Kami menerima perintah langsung dari istana. Ada orang dari luar alam Rawayan Agung yang ditemukan di wilayah hutan larangan. Raja memerintahkan agar orang itu dibawa menghadap.”

Pandita menatap mereka satu per satu.

“Dia bukan ancaman.”

“Dengan segala hormat, Pandita, kami tidak dapat memutuskan hal itu. Raja telah memerintahkan penyelidikan terhadap setiap orang asing yang memasuki wilayah ini.”

“Dan aku telah menyelidikinya.”

Pemimpin prajurit mengerutkan kening. “Pandita telah mengenalnya?”

“Belum lama. Namun, aku mengenali sesuatu yang lebih penting daripada asal-usulnya.”

Pandita mengangkat tongkatnya sedikit. Udara di sekitar mereka mendadak terasa berat. Bukan tekanan yang mengancam, melainkan wibawa yang membuat para prajurit secara naluriah menundukkan kepala.

“Dia tidak datang untuk menaklukkan Rawayan Agung. Dia bahkan tidak mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai ke sini.”

“Namun, bagaimana jika dia adalah mata-mata dari dunia manusia?”

Pandita menghela napas.

“Jika dia mata-mata, tentu dia tidak akan jatuh ke jurang, kehilangan kesadaran, lalu terbangun dalam keadaan kebingungan.”

Beberapa prajurit saling berpandangan. Pemimpin mereka masih terlihat ragu.

“Perintah raja tetap harus kami laksanakan.”

“Kalau begitu,” ujar Pandita, “biarkan aku berbicara langsung dengan beliau.”

Pandita memejamkan mata.

Dalam sekejap, kesadarannya melesat menembus kabut, melewati gunung-gunung, sungai, dan benteng batu yang mengelilingi ibu kota kerajaan. Ia tidak menggerakkan bibir. Tidak pula mengucapkan mantra dengan suara.

Namun, sebuah suara terdengar di dalam kesadarannya.

Baginda Raja Rawayan Agung. Hamba memohon izin untuk menyampaikan perkara mengenai pemuda dari dunia manusia.

Jauh di dalam istana, seorang raja yang tengah duduk di singgasana berlapis batu hitam membuka matanya.

Pandita, jawabnya melalui telepati. Aku telah merasakan kehadiran orang asing itu. Aura kehidupannya tidak seperti manusia Rawayan.

Benar, Baginda. Namun, hamba tidak menemukan niat jahat dalam dirinya.

Bagaimana kau bisa begitu yakin?

Pandita terdiam sesaat. Ia kemudian menyampaikan apa yang telah dilihatnya ketika Kamandaka berada dalam keadaan tak sadar.

Tujuh titik cakra dalam tubuhnya memancarkan aura biru. Ketujuhnya memiliki keseimbangan yang sangat langka. Hamba pernah melihat pancaran seperti itu dalam catatan kuno tentang Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi. Dan… hamba juga pernah melihatnya pada diri Baginda.

Keheningan menyelimuti percakapan batin itu.

Raja Rawayan Agung berdiri dari singgasananya.

Jangan sembarangan menyebut nama Prabu Siliwangi, Pandita.

Hamba tidak bermaksud menyamakan keduanya, Baginda. Hamba hanya menyampaikan apa yang hamba lihat.

Lalu, apa pendapatmu?

Pemuda itu tidak mencurigakan. Ia memiliki potensi yang luar biasa, tetapi belum memahami kekuatan yang ada di dalam dirinya. Hamba memohon agar ia diizinkan tinggal dan belajar di bawah pengawasan hamba.

Sang Raja terdiam cukup lama.

Di luar istana, langit Rawayan Agung kembali bergetar.

Sejak beberapa tahun terakhir, kerajaan itu menghadapi keanehan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Ada kekuatan asing yang seolah-olah terus menghisap batas antara Rawayan Agung dan dunia manusia. Retakan-retakan halus muncul di beberapa tempat, kemudian menghilang sebelum sempat diselidiki.

Raja Rawayan Agung tidak pernah menganggap ancaman dari luar sebagai perkara kecil. Setiap orang asing yang memasuki wilayahnya harus diperiksa. Sebab, jika batas kedua dunia benar-benar runtuh, bukan hanya kerajaan yang terancam, melainkan juga dunia manusia.

Baiklah, jawab sang Raja akhirnya. Aku mengizinkan pemuda itu tinggal di Rawayan Agung. Namun, jika ia menunjukkan tanda-tanda membahayakan kerajaan, kau harus bertanggung jawab.

Hamba menerima titah Baginda.

Percakapan batin itu berakhir.

Pandita membuka mata. Para prajurit masih menunggu di hadapannya.

“Baginda Raja telah memberikan izin,” katanya. “Pemuda itu akan tinggal di sini, di bawah pengawasan langsungku.”

Pemimpin prajurit menurunkan tombaknya.

“Baik, Pandita. Kami akan menyampaikan keputusan ini kepada istana.”

Setelah para prajurit pergi, Pandita memandang ke arah pondok.

Di dalamnya, Kamandaka masih duduk dengan wajah penuh kebingungan.

“Sepertinya,” gumam Pandita, “perjalananmu di alam ini akan jauh lebih panjang daripada yang kau bayangkan.”

Tujuh Cakra yang Langka

Malam itu, Pandita menjelaskan semuanya kepada Kamandaka.

Tentang kerajaan Rawayan Agung. Tentang batas dua dunia. Tentang Raja yang mengizinkannya tinggal. Dan tentang tujuh titik cakra yang memancarkan aura biru di dalam tubuhnya.

Kamandaka mendengarkan tanpa menyela.

“Jadi, saya tidak bisa pulang begitu saja?” tanyanya.

“Belum,” jawab Pandita. “Batas antara dunia manusia dan Rawayan Agung sedang mengalami gangguan. Bahkan, aku sendiri belum mengetahui penyebabnya.”

Kamandaka menunduk. Bayangan wajah keluarganya muncul dalam benaknya. Ia membayangkan ibunya yang mungkin sedang menunggu kepulangannya, ayahnya yang akan mencari kabar, serta teman-temannya yang tidak tahu bahwa dirinya telah menghilang.

“Apakah saya bisa kembali suatu hari nanti?”

Pandita memandangnya dengan tatapan teduh.

“Jika kau ingin menemukan jalan pulang, kau harus terlebih dahulu memahami tempat yang kini kau pijak.”

“Bagaimana caranya?”

“Belajar.”

Pandita berdiri, lalu mengambil sebuah kitab tua dari lemari kayu. Sampulnya terbuat dari kulit gelap, dengan aksara kuno yang terukir di permukaannya.

“Rawayan Agung bukan tempat yang ramah bagi orang yang tidak memiliki kesaktian. Bahkan, orang biasa dapat kehilangan nyawa hanya karena melewati wilayah yang salah.”

Kamandaka menerima kitab itu.

“Kalau begitu, saya akan belajar.”

Pandita tersenyum tipis.

“Jangan terburu-buru. Ilmu bukan sekadar kekuatan untuk mengalahkan lawan. Ilmu adalah cara untuk menjaga dirimu, dan lebih penting lagi, menjaga orang lain.”

Kamandaka mengangguk.

Sejak malam itu, kehidupan barunya dimulai.

Dua Tahun di Bawah Sang Pandita

Pagi di Rawayan Agung selalu dimulai dengan kabut yang menggantung di antara pepohonan. Di halaman pondok, Kamandaka berdiri dengan kedua kaki terbuka selebar bahu. Napasnya teratur, kedua telapak tangannya menghadap ke depan.

Pandita duduk di atas batu besar, mengawasi setiap gerakannya.

“Tenaga dalam bukan sekadar mengumpulkan kekuatan,” ujar sang Pandita. “Kau harus mengenali aliran napasmu. Jika pikiranmu kacau, tenaga itu akan kacau pula.”

Kamandaka menarik napas perlahan.

Udara masuk melalui hidung, turun ke dada, lalu bergerak mengikuti irama yang diajarkan. Ia memusatkan kesadarannya pada tujuh titik cakra di dalam tubuhnya.

Satu demi satu, titik-titik itu terasa hangat.

Kemudian, sebuah cahaya biru samar muncul di sekitar tubuhnya.

Pandita membuka mata.

“Jangan dipaksakan.”

Kamandaka segera menghentikan aliran tenaganya.

“Maaf, Guru.”

“Tidak perlu meminta maaf. Kau hanya harus belajar mengendalikan apa yang telah kau miliki.”

Hari-hari berlalu. Kamandaka mempelajari berbagai kitab kanuragan, ilmu tenaga dalam, dan jurus-jurus tingkat tinggi yang diwariskan sang Pandita. Ia belajar mengatur napas, menguatkan tubuh, membaca gerak lawan, serta menyelaraskan tenaga dengan alam.

Salah satu ilmu yang paling sulit adalah Kilat Bajra, teknik yang memusatkan tenaga pada gerakan secepat kilatan petir.

Ilmu lainnya adalah Gelap Ngampar, teknik yang memanfaatkan ledakan tenaga dalam untuk menciptakan gelombang tekanan yang menyebar di permukaan tanah.

Keduanya bukan ilmu yang dapat dikuasai hanya dengan membaca kitab.

Namun, Kamandaka memiliki kelebihan yang tidak dimiliki murid lain.

Ingatan fotografisnya membuat setiap aksara, gambar, dan gerakan yang dilihatnya tersimpan dengan jelas. Dasar-dasar silat Cimande yang telah ia pelajari sejak di dunia manusia juga memberinya pemahaman tentang kuda-kuda, tangkisan, pukulan, dan cara memanfaatkan tenaga lawan.

Ditambah lagi, ia terbiasa berpuasa. Disiplin itu membuatnya mampu menjalani latihan panjang yang menuntut ketenangan pikiran dan pengendalian diri.

Satu kitab selesai dipelajari.

Lalu kitab kedua.

Ketiga.

Keempat.

Pandita mulai menyadari bahwa pemuda itu bukan murid biasa.

Dalam waktu dua tahun, Kamandaka berhasil menguasai seluruh ilmu yang diajarkan sang Pandita. Bukan hanya menghafal isi kitab, melainkan memahami prinsip di balik setiap jurus.

Pada suatu sore, Pandita menguji kemampuan muridnya.

“Coba tangkis seranganku.”

Kamandaka mengambil kuda-kuda Cimande.

Pandita mengayunkan tongkatnya dengan cepat.

Kamandaka bergerak ke samping, memiringkan tubuh, lalu mengalihkan arah tongkat dengan tangkisan lengan. Ia melangkah masuk, memutar pinggang, dan menghentikan telapak tangannya tepat di depan dada sang Pandita.

Tidak ada sentuhan.

Tidak ada benturan.

Hanya gerakan yang berhenti pada jarak sejengkal.

Pandita menatapnya.

“Bagus.”

Kamandaka menarik tangannya.

“Apakah saya sudah cukup kuat, Guru?”

“Untuk menghadapi orang biasa, mungkin. Untuk menghadapi Rawayan Agung…” Pandita menggeleng. “Kau baru mulai memahami betapa luasnya dunia ini.”

Kamandaka tersenyum kecil.

Ia belum mengetahui bahwa ujian sesungguhnya akan datang jauh lebih cepat daripada yang ia bayangkan.

Jeritan di Jalan Hutan

Dua tahun telah berlalu sejak Kamandaka memasuki Rawayan Agung.

Pada suatu pagi, ia mendapat izin dari Pandita untuk pergi ke sebuah desa di kaki gunung. Ia diminta mengambil beberapa bahan obat yang hanya tumbuh di wilayah tersebut.

Kamandaka berjalan menyusuri jalan setapak. Di pinggangnya terselip sebilah golok kecil untuk keperluan perjalanan. Jubah sederhana berwarna kelabu menutupi pakaian latihannya.

Udara terasa sejuk. Burung-burung berkicau di antara pepohonan.

Namun, ketenangan itu mendadak pecah oleh suara bentakan.

“Cepat keluarkan semua hartamu, Tua Bangka!”

Kamandaka menghentikan langkah.

Dari balik pepohonan, terdengar suara seorang kakek yang memohon.

“Anak-anak muda… aku hanya membawa sedikit bekal. Tidak ada harta yang bisa kalian ambil.”

“Jangan berbohong!”

Kamandaka segera bergerak mendekati sumber suara.

Di sebuah tanah lapang kecil, tujuh orang berpakaian hitam mengepung seorang kakek tua dan seorang gadis muda. Ketujuh orang itu mengenakan ikat kepala gelap. Wajah mereka garang, sementara senjata-senjata tajam tergantung di pinggang.

Salah seorang dari mereka mencengkeram kerah baju sang kakek.

Yang lain berdiri di hadapan gadis itu dengan senyum menjijikkan.

“Wajahmu cukup manis,” katanya. “Ikutlah bersama kami. Siapa tahu kami bisa membuat perjalananmu lebih menyenangkan.”

Gadis itu mundur ketakutan.

“Jangan sentuh cucuku!” seru sang kakek.

Seorang perampok menendang lututnya hingga ia terjatuh.

“Diam, tua bangka!”

Gadis itu berteriak.

Kamandaka mengepalkan tangan.

Selama dua tahun, ia telah mempelajari ilmu untuk mengendalikan kekuatan. Namun, ia tidak pernah mengira bahwa ujian pertamanya akan datang dalam bentuk sekelompok manusia yang menyalahgunakan kekuatan mereka untuk menindas orang lain.

Ia melangkah keluar dari balik pepohonan.

“Lepaskan mereka.”

Ketujuh orang itu menoleh.

Seorang lelaki bertubuh besar menyeringai.

“Siapa kau?”

“Orang yang kebetulan lewat.”

“Kalau begitu, teruslah lewat. Ini bukan urusanmu.”

Kamandaka memandang kakek dan gadis itu.

“Kalau kalian berhenti menyakiti mereka, aku akan pergi.”

Lelaki bertubuh besar itu tertawa keras.

“Kau pikir bisa memerintah kami?”

Ia menghunus goloknya.

“Bunuh anak ini!”

Enam orang lainnya segera bergerak.

Kamandaka menghela napas.

“Sayang sekali.”

Kilat Bajra

Perampok pertama menyerang dari depan dengan golok terangkat. Tebasannya mengarah ke bahu Kamandaka.

Kamandaka tidak mundur.

Ia memiringkan tubuh sedikit ke kiri. Golok itu melintas di sisi kanannya, hanya menyisakan desir angin. Pada saat yang sama, tangan kiri Kamandaka menangkap pergelangan lawan.

Kaki kanannya bergerak menyapu bagian luar lutut.

Tubuh perampok itu kehilangan keseimbangan.

Kamandaka memutar pergelangan tangannya, mengalihkan momentum serangan, lalu mendorong bahu lawan.

Bruk!

Perampok itu jatuh telentang. Goloknya terlepas dan menghantam tanah.

Belum sempat ia bangkit, perampok kedua datang dari samping dengan pukulan keras.

Kamandaka menunduk. Pukulan itu melintas di atas kepalanya.

Ia melangkah masuk ke ruang kosong di depan lawan, memutar pinggang, lalu melayangkan pukulan pendek ke ulu hati.

“Ugh!”

Lawan terhuyung mundur, kehilangan napas.

Kamandaka tidak mengejarnya. Ia segera memutar tubuh karena tiga orang lainnya telah mengepungnya.

Satu menyerang dari kiri dengan golok.

Satu dari kanan dengan tongkat besi.

Yang terakhir menerjang dari belakang.

Kamandaka memusatkan tenaga pada kedua kakinya.

Kilat Bajra.

Dalam sekejap, tubuhnya bergerak seperti kilatan cahaya.

Ia melesat ke depan, menghindari serangan dari belakang. Golok dari kiri menghantam udara kosong, sementara tongkat besi dari kanan menyapu tanpa mengenai sasaran.

Kamandaka muncul di sisi perampok bertongkat.

Satu tangkisan.

Satu putaran.

Satu dorongan telapak tangan.

Tongkat besi terlepas dari genggaman lawan dan tubuhnya terlempar ke semak-semak.

Perampok bergolok berbalik dengan wajah terkejut.

“Ke mana dia?!”

Kamandaka telah berada di belakangnya.

“Di sini.”

Sebuah tendangan rendah menghantam bagian belakang lutut lawan. Ketika tubuhnya mulai jatuh, Kamandaka menahan bahunya dan membantingnya ke tanah dengan gerakan terkendali.

Dua orang tersisa yang belum menyerang mulai ragu.

Pemimpin mereka, lelaki bertubuh besar, menggeram.

“Jangan takut! Dia cuma mengandalkan kecepatan!”

Ia mengangkat goloknya tinggi-tinggi.

“Serang bersama!”

Tiga orang yang masih mampu berdiri kembali menerjang. Pemimpin mereka menyerang dari depan, sementara dua anak buahnya bergerak dari sisi kiri dan kanan.

Kamandaka menatap gerakan mereka.

Dalam benaknya, setiap langkah, sudut serangan, dan posisi tubuh terlihat jelas. Ingatan fotografisnya bukan hanya membantunya menghafal kitab, tetapi juga membaca pola gerak yang pernah ia pelajari.

Ia melihat celah di antara ketiganya.

Namun, ia tidak segera menyerang.

Ia menunggu.

Satu langkah.

Dua langkah.

Saat pemimpin mereka mengayunkan golok, Kamandaka bergerak menyilang. Tangan kirinya menepis lengan penyerang, sementara tangan kanan menekan siku lawan ke arah yang berlawanan.

Golok itu berputar keluar dari genggaman.

Kamandaka menangkap gagangnya sebelum jatuh, lalu melemparkannya jauh ke tanah.

Perampok kedua menusukkan belati dari samping.

Kamandaka memutar tubuh dan menahan pergelangan tangannya dengan kedua tangan. Ia menggeser kaki, memanfaatkan tarikan lawan, lalu menjatuhkannya dengan bantingan Cimande.

Perampok ketiga mencoba menghantam punggungnya.

Kamandaka merendahkan tubuh, menghindari pukulan, kemudian menghentakkan telapak tangan ke tanah.

Gelap Ngampar!

Dum!

Gelombang tenaga dalam menyebar dari telapak tangannya. Tanah di sekitar mereka bergetar. Debu dan dedaunan terangkat, sementara perampok yang menyerang dari belakang kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Pemimpin perampok mundur beberapa langkah.

Matanya membelalak.

“Apa… apa ilmu itu?”

Kamandaka berdiri perlahan.

“Ilmu untuk menghentikan orang yang tidak tahu kapan harus berhenti.”

Lelaki bertubuh besar itu menggeram marah. Ia mengumpulkan tenaga dalam pada lengannya. Aura merah gelap mulai menyelimuti golok yang kembali ia ambil dari tanah.

“Jangan sombong, bocah!”

Ia menerjang dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya.

Kamandaka menyadari bahwa lawannya bukan sekadar perampok biasa. Tenaga dalam lelaki itu cukup kuat untuk membelah batang pohon kecil.

Goloknya menebas dari atas.

Kamandaka mengangkat kedua lengan, menyilangkan telapak tangan, lalu menahan serangan itu dengan lapisan tenaga dalam.

Benturan keras menggema.

Dua kekuatan saling menekan.

Tanah di bawah kaki Kamandaka retak tipis.

Pemimpin perampok menyeringai.

“Tidak sanggup menahannya, ya?”

Kamandaka tidak menjawab.

Ia mengubah posisi kakinya. Kuda-kuda Cimande yang telah ia kuasai membuat tubuhnya tetap stabil. Ia memutar pergelangan tangan, menggeser golok lawan ke samping, lalu melangkah masuk.

Jarak mereka menjadi sangat dekat.

Kamandaka menghantamkan siku ke lengan lawan.

Golok itu terlepas.

Sebelum pemimpin perampok sempat bereaksi, Kamandaka memutar pinggang dan mengayunkan telapak tangan ke dada lawan.

Gelap Ngampar!

Ledakan tenaga dalam menghantam tubuh lelaki itu.

Wuuum!

Tubuhnya terlempar beberapa meter dan menghantam tanah dengan keras. Ia berusaha bangkit, tetapi napasnya tersengal-sengal. Tenaga dalamnya seperti terputus.

Kamandaka berdiri di hadapannya.

“Sudah cukup.”

Pemimpin perampok menatapnya dengan ketakutan.

Tujuh orang yang tadi mengepung kakek dan gadis itu kini terkapar atau berlutut di tanah. Tidak seorang pun mampu melanjutkan pertarungan.

Kamandaka menarik napas panjang.

Ia tidak membunuh mereka.

Baginya, kekuatan bukanlah alasan untuk mengambil nyawa seseorang.

Aura Biru yang Terungkap

Kamandaka berbalik dan menghampiri kakek tua serta gadis yang ditolongnya.

“Apakah kalian baik-baik saja?”

Kakek itu masih gemetar. Ia memegangi lengan cucunya, sementara gadis itu menatap Kamandaka dengan mata berkaca-kaca.

“Kami… kami baik-baik saja,” jawab sang kakek. “Terima kasih, Anak Muda. Jika kau tidak datang, entah apa yang akan terjadi pada kami.”

Kamandaka mengangguk.

“Apakah kalian tahu siapa mereka?”

Kakek itu menatap tujuh perampok yang tergeletak.

“Mereka dikenal sebagai kelompok Tujuh Bayangan. Mereka sering merampok orang yang melintasi jalan ini. Namun, tak seorang pun berani melawan mereka karena pemimpinnya memiliki ilmu tenaga dalam.”

Kamandaka memandang mereka dengan tenang.

“Kalau begitu, sebaiknya kalian segera pergi. Aku akan memastikan mereka tidak mengganggu kalian lagi.”

Kakek itu mengangguk berkali-kali.

Namun, ketika Kamandaka hendak berbalik, gadis muda itu tiba-tiba memperhatikan tangannya.

“Paman… lihat.”

Kakek itu mengikuti arah pandang cucunya.

Di sekitar tubuh Kamandaka, cahaya biru samar mulai muncul.

Bukan hanya di tangannya.

Cahaya itu tampak menyelimuti tujuh titik di sepanjang tubuhnya, memancar seperti bintang-bintang kecil yang terhubung oleh aliran energi.

Kamandaka sendiri tidak menyadarinya.

Ia hanya merasa tubuhnya sedikit hangat setelah menggunakan Gelap Ngampar.

Di kejauhan, di pondok yang tersembunyi di balik kabut, Sang Pandita mendadak membuka mata.

Ia sedang duduk bersila ketika merasakan gelombang tenaga dalam yang sangat kuat.

“Gelap Ngampar…”

Pandita berdiri.

Namun, bukan teknik itu yang membuatnya terkejut.

Melainkan pancaran aura biru yang menyertainya.

“Tujuh cakra itu… telah terbuka?”

Pandita memandang ke arah hutan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wajahnya menunjukkan kegelisahan.

Sebab, ia mengetahui satu hal yang belum diketahui Kamandaka.

Aura biru dengan tujuh cakra itu bukan sekadar tanda bakat luar biasa.

Dalam kitab kuno Rawayan Agung, pancaran tersebut disebut sebagai Cakra Saptanaga—tanda yang hanya pernah muncul pada tokoh-tokoh besar yang mampu mengubah nasib dua dunia.

Dan kini, tanda itu muncul pada seorang pemuda dari dunia manusia.

Jauh di dalam istana, Raja Rawayan Agung juga merasakan gelombang energi tersebut.

Ia berdiri dari singgasananya.

“Pandita…”

Sang Raja menatap ke arah hutan larangan.

“Apakah pemuda itu benar-benar hanya seorang manusia?”

Di atas langit Rawayan Agung, kabut bergerak membentuk pusaran.

Dan dari balik batas dua dunia, sesuatu yang telah lama tertidur mulai membuka mata.

Bersambung ...