RAWAYAN AGUNG - Hutan yang Menelan Manusia
Pagi itu, ruang kuliah Fakultas Kehutanan dipenuhi suara percakapan mahasiswa. Sebagian sibuk membuka laptop, sebagian lain masih menghabiskan kopi dari kantin, sementara beberapa mahasiswa duduk berkelompok membicarakan tugas yang belum selesai.
Kamandaka duduk di barisan tengah, dekat jendela.
Usianya belum genap dua puluh tiga tahun. Tubuhnya tegap, bahunya cukup lebar, dan wajahnya memiliki ketenangan yang terkadang membuat orang lain mengira ia lebih tua daripada usianya. Rambutnya dipotong pendek. Di atas meja, sebuah buku catatan terbuka, berisi tulisan tangan yang rapi.
Di samping buku itu tergeletak sebuah tas hitam yang sudah agak usang.
Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. Ia berpakaian sederhana, tidak banyak bicara, dan lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan daripada berkumpul di kafe bersama teman-temannya.
Namun, ada satu hal yang membuatnya cukup dikenal di kalangan mahasiswa.
Kamandaka hampir tidak pernah lupa terhadap sesuatu yang pernah dibacanya.
Ia mampu mengingat halaman buku, susunan kalimat, bahkan letak sebuah diagram dengan ketepatan yang terkadang membuat dosen pembimbingnya geleng-geleng kepala. Sebagian orang menyebutnya ingatan fotografis. Kamandaka sendiri tidak terlalu memedulikannya.
Baginya, membaca adalah perkara memahami. Dan mengingat adalah bagian dari memahami.
Selain kuliah, ia juga seorang santri senior di sebuah pesantren yang berada tidak jauh dari kampus. Sejak kecil, ia telah mempelajari ilmu agama. Di sela-sela kesibukannya, ia masih rutin berlatih silat di sebuah padepokan Cimande.
Dua kehidupan itu berjalan berdampingan.
Di kampus, ia mempelajari hutan melalui buku, penelitian, dan metode ilmiah.
Di padepokan, ia mempelajari bagaimana manusia harus menjaga dirinya agar tidak dikuasai oleh kesombongan.
Pagi itu, kedua kehidupan tersebut akan membawanya ke sebuah tempat yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Pintu ruang kuliah terbuka.
Seorang dosen berkacamata masuk sambil membawa beberapa lembar kertas. Percakapan mahasiswa perlahan mereda.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Pak."
Dosen itu meletakkan berkas di atas meja.
"Baik. Hari ini kita akan membahas tugas penelitian lapangan untuk mata kuliah Ekologi Hutan. Saya ingin kalian tidak hanya memahami hutan dari buku. Kalian harus melihat langsung bagaimana sebuah ekosistem bekerja."
Ia menyalakan proyektor.
Sebuah peta kawasan hutan muncul di layar.
"Hutan larangan di wilayah selatan Sukabumi."
Beberapa mahasiswa mulai berbisik.
Kamandaka mengangkat wajah.
Hutan itu bukan kawasan yang asing baginya. Sejak kecil, ia pernah mendengar cerita tentang tempat tersebut. Masyarakat sekitar menyebutnya hutan larangan karena dipercaya memiliki aturan yang tidak boleh dilanggar.
Ada yang mengatakan bahwa hutan itu merupakan tempat bersemayamnya para karuhun. Ada pula yang percaya bahwa di dalamnya terdapat situs peninggalan kerajaan Sunda yang belum pernah ditemukan.
Namun, bagi Kamandaka, cerita semacam itu masih perlu dibuktikan.
Dosen melanjutkan penjelasannya.
"Kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Beberapa penelitian sebelumnya menemukan spesies tumbuhan yang jarang dijumpai di kawasan hutan lain. Selain itu, kondisi geologisnya juga menarik. Terdapat beberapa mata air, formasi batuan tua, dan cekungan tanah yang belum banyak diteliti."
Ia menatap seluruh mahasiswa.
"Saya ingin kalian melakukan penelitian mengenai hubungan antara komponen biotik dan abiotik di kawasan tersebut. Kalian akan bekerja dalam kelompok. Hasil penelitian akan menjadi bagian dari penilaian akhir semester."
Seorang mahasiswa di barisan depan mengangkat tangan.
"Pak, apakah kawasan itu aman untuk penelitian?"
Dosen tersenyum tipis.
"Selama kalian mengikuti prosedur, tidak memasuki wilayah terlarang, dan tidak bertindak ceroboh, seharusnya aman."
Kamandaka mencatat beberapa hal penting.
Hutan larangan.
Keanekaragaman hayati.
Formasi batuan tua.
Mata air.
Ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
Di bagian peta yang ditampilkan, terdapat sebuah kawasan yang tidak diberi keterangan. Bentuknya menyerupai cekungan besar yang dikelilingi garis kontur rapat.
"Pak," kata Kamandaka.
Dosen menoleh.
"Ya, Kamandaka?"
"Bagian yang tidak memiliki keterangan itu, apakah sudah pernah diteliti?"
Dosen melihat layar.
"Oh, bagian itu."
Ia terdiam sebentar.
"Sejauh yang saya ketahui, belum ada penelitian yang benar-benar mendalam. Aksesnya sulit. Beberapa tim penelitian sebelumnya hanya mencapai batas luarnya."
"Mengapa tidak dilanjutkan, Pak?"
Dosen merapikan kacamatanya.
"Karena kawasan itu memiliki status khusus dari masyarakat setempat. Mereka tidak mengizinkan orang masuk terlalu jauh."
Kamandaka kembali melihat peta.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Namun, sejak saat itu, pikirannya mulai tertuju pada kawasan yang tidak memiliki keterangan tersebut.
Dan tanpa disadarinya, sebuah keinginan kecil telah tumbuh di dalam benaknya.
Ia ingin mengetahui apa yang tersembunyi di sana.
Jejak di Balik Pepohonan
Dua minggu kemudian, penelitian itu akhirnya dimulai.
Kamandaka berangkat seorang diri. Teman-teman sekelompoknya memilih kawasan yang lebih mudah dijangkau, sementara ia mengajukan izin khusus untuk meneliti bagian hutan yang belum banyak dipetakan.
Dosen pembimbingnya sempat keberatan.
Namun, setelah Kamandaka menjelaskan rencana penelitian, jalur yang akan ditempuh, serta peralatan yang dibawanya, sang dosen akhirnya memberikan izin dengan satu syarat.
Jangan melewati batas kawasan penelitian.
Kamandaka menyanggupinya.
Pagi itu, ia tiba di sebuah desa kecil yang berada di kaki hutan. Udara masih dingin. Kabut menggantung di antara rumah-rumah penduduk, sementara suara ayam bersahutan dari kejauhan.
Ia menghampiri sebuah warung sederhana.
Seorang lelaki tua sedang duduk di bangku bambu, menikmati kopi hitam.
"Pun, Aki. Bade naros."
Lelaki tua itu menoleh.
"Naon, Jang?"
"Abdi bade lebet ka leuweung. Ngalakukeun panalungtikan."
Aki itu meletakkan cangkirnya.
"Leuweung mana?"
Kamandaka menunjukkan peta.
Lelaki tua itu memperhatikan peta tersebut cukup lama. Ketika melihat kawasan yang hendak dituju Kamandaka, wajahnya berubah.
"Ulah ka dinya."
Kamandaka mengerutkan kening.
"Naha, Ki?"
"Éta leuweung lain tempat keur jalma nu teu wawuh."
Kamandaka tersenyum kecil.
"Abdi tos nyuhunkeun izin, Ki. Ieu kanggo panalungtikan kampus."
Aki itu menggeleng.
"Leuweung mah bisa dipaluruh. Tapi aya tempat anu teu bisa dipaksa pikeun dipikawanoh."
Kamandaka tidak langsung menjawab.
Ia menghormati kepercayaan masyarakat setempat. Namun, ia juga memiliki tanggung jawab terhadap penelitiannya.
Setelah berbincang beberapa saat, ia akhirnya berpamitan.
Sebelum Kamandaka pergi, Aki itu kembali memanggilnya.
"Jang."
Kamandaka menoleh.
"Lamun engké hidep ngadéngé sora kentongan tilu kali, ulah néangan asal sorana."
Kamandaka mengangguk.
"Sumuhun, Ki."
Ia tidak bertanya lebih jauh.
Baginya, itu hanyalah bagian dari kepercayaan masyarakat yang hidup di sekitar hutan.
Ia belum tahu bahwa peringatan itu akan menjadi sesuatu yang sangat penting.
Hutan larangan menyambutnya dengan keheningan.
Pepohonan tumbuh rapat. Batang-batang besar menjulang tinggi, sementara akar-akarnya mencengkeram tanah seperti jari-jari raksasa. Sinar matahari hanya mampu menembus dedaunan dalam bentuk garis-garis tipis.
Kamandaka berjalan mengikuti jalur yang telah ditandai pada peta.
Sesekali ia berhenti untuk mengambil sampel tanah, mengukur kelembapan, dan mencatat jenis tumbuhan yang ditemukan.
Ia juga mengamati beberapa jenis lumut yang tumbuh pada batuan tua.
"Menarik," gumamnya.
Ia membuka buku catatan.
Kelembapan tanah di kawasan itu jauh lebih tinggi daripada kawasan hutan lain yang pernah ditelitinya. Suhu udara juga terasa lebih rendah, meskipun matahari mulai meninggi.
Selain itu, ada sesuatu yang tidak biasa pada kompasnya.
Jarum kompas terkadang bergerak perlahan, lalu berhenti pada arah yang berbeda.
Kamandaka menganggapnya sebagai gangguan medan magnet lokal.
Ia mencatat kemungkinan adanya kandungan mineral tertentu pada batuan di sekitarnya.
Penjelasan itu cukup masuk akal.
Setidaknya, untuk sementara.
Menjelang tengah hari, ia menemukan sebuah aliran sungai kecil.
Airnya jernih. Dasarnya dipenuhi batuan hitam yang licin. Di sepanjang tepi sungai, tumbuh beberapa pohon besar yang tidak dikenalnya.
Kamandaka mengambil sampel air.
Kemudian ia melihat sesuatu di seberang sungai.
Sebuah batu besar berdiri di antara pepohonan.
Permukaannya dipenuhi lumut, tetapi pada bagian tengahnya terdapat ukiran yang masih terlihat jelas.
Kamandaka menyeberangi sungai.
Ia membersihkan permukaan batu menggunakan tangannya.
Ukiran itu menyerupai sebuah lambang.
Sebuah lingkaran dengan garis-garis yang saling bertautan. Di bagian tengahnya terdapat bentuk menyerupai gunung, sementara di bawahnya terdapat tulisan yang tidak dikenalnya.
Kamandaka mengeluarkan kamera.
Ia mengambil beberapa gambar.
Kemudian ia mencoba membaca tulisan tersebut.
Tidak berhasil.
Tulisan itu menyerupai aksara Sunda kuno, tetapi bentuknya berbeda dari aksara yang pernah dipelajarinya.
Ia mengusap dagunya.
"Ini bisa jadi temuan penting."
Kamandaka kembali mencatat lokasi batu tersebut.
Namun, ketika ia hendak melanjutkan perjalanan, ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.
Di balik pepohonan, terdapat sebuah jalan setapak.
Jalan itu tidak tercantum dalam peta.
Lebarnya hanya cukup untuk dilewati satu orang. Tanahnya dipenuhi dedaunan kering, tetapi di beberapa bagian terlihat bekas pijakan yang masih baru.
Kamandaka menatap jalan tersebut.
Ia tahu bahwa seharusnya ia tidak melewati batas penelitian.
Namun, rasa ingin tahunya semakin besar.
Ia memeriksa GPS.
Koordinatnya menunjukkan bahwa ia masih berada di dalam kawasan hutan larangan, tetapi jalur itu mengarah ke sebuah cekungan yang belum tercatat dalam peta.
Ia terdiam beberapa saat.
Kemudian, ia memutuskan untuk berjalan sedikit lebih jauh.
Hanya untuk memastikan apakah terdapat situs arkeologis di sana.
Ia tidak tahu bahwa keputusan kecil itu akan mengubah seluruh hidupnya.
Maung
Jalan setapak itu semakin sempit.
Pepohonan tumbuh semakin rapat. Akar-akar besar melintang di tanah, sementara beberapa batang pohon tampak memiliki bentuk yang tidak biasa.
Kamandaka berjalan perlahan.
Ia tidak lagi menemukan tanda-tanda aktivitas manusia.
Tidak ada suara kendaraan.
Tidak ada suara burung.
Bahkan suara aliran sungai yang tadi terdengar cukup jelas kini menghilang.
Hutan terasa berbeda.
Kamandaka berhenti.
Ia memeriksa jam tangannya.
Pukul dua belas lewat empat puluh menit.
Namun, cahaya matahari yang menembus pepohonan mulai tampak redup.
Ia mengangkat wajah.
Langit tidak tertutup awan.
Tetapi suasana di sekelilingnya seperti menjelang sore.
Kamandaka mengeluarkan kompas.
Jarumnya berputar.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian berhenti.
Ia mengerutkan kening.
"Medan magnetnya cukup kuat."
Ia menyimpan kompas dan kembali berjalan.
Beberapa menit kemudian, ia menemukan sebuah pohon besar yang batangnya berlubang. Di bawahnya terdapat susunan batu yang menyerupai fondasi bangunan.
Kamandaka berjongkok.
Ia membersihkan permukaan batu menggunakan ranting.
Ada ukiran lain.
Bentuknya sama dengan lambang yang ditemukan di tepi sungai.
Namun, kali ini terdapat tulisan yang lebih panjang.
Kamandaka mencoba membaca setiap goresan.
Ia tidak memahami seluruhnya, tetapi ada satu kata yang terasa familiar.
Rawayan.
Ia pernah membaca kata itu dalam sebuah catatan sejarah lokal yang membahas kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Sunda.
Namun, catatan tersebut tidak pernah menyebutkan lokasi pasti kerajaan itu.
Kamandaka membuka ponselnya.
Tidak ada sinyal.
Ia mencoba mengambil gambar.
Kamera ponselnya sempat menyala, tetapi layar mendadak berkedip.
Kemudian mati.
Kamandaka menekan tombol daya.
Tidak ada respons.
Ia menghela napas.
"Bagus."
Ia memasukkan ponsel ke dalam tas.
Saat itulah ia mendengar suara.
“Krek.”
Seperti ranting yang patah.
Kamandaka menoleh.
Tidak ada apa-apa.
Ia kembali menatap batu.
Krek.
Suara itu terdengar lagi.
Kali ini lebih dekat.
Kamandaka berdiri.
Ia memperhatikan sekelilingnya.
Di antara pepohonan, ada sesuatu yang bergerak.
Sebuah bayangan besar.
Kamandaka terdiam.
Bayangan itu berhenti.
Kemudian terdengar suara geraman.
Rendah.
Berat.
Dan sangat dekat.
Kamandaka perlahan menoleh.
Seekor harimau berdiri di balik semak-semak.
Tubuhnya besar. Bulunya berwarna jingga gelap dengan garis-garis hitam yang tegas. Matanya menatap Kamandaka tanpa berkedip.
Maung.
Kamandaka merasakan seluruh tubuhnya menegang.
Ia tahu bahwa harimau merupakan salah satu predator yang masih ditemukan di beberapa kawasan hutan Indonesia. Namun, melihatnya secara langsung dalam jarak beberapa meter adalah pengalaman yang sama sekali berbeda.
Ia tidak bergerak.
Harimau itu juga tidak bergerak.
Beberapa detik berlalu.
Kamandaka perlahan mundur.
Harimau itu menggeram.
Kamandaka berhenti.
Ia tahu bahwa berlari bukanlah pilihan yang baik.
Namun, ketika harimau itu mulai melangkah mendekat, naluri bertahan hidupnya mengambil alih.
Ia berbalik.
Dan berlari.
4. Jurang
Kamandaka berlari menembus semak-semak.
Ranting-ranting menyambar wajahnya. Duri-duri mencakar lengannya. Napasnya mulai memburu.
Di belakangnya terdengar suara langkah berat.
Harimau itu mengejarnya.
Kamandaka tidak tahu ke mana harus pergi.
Ia hanya berusaha menjauh.
Jalan setapak yang tadi dilewatinya kini tidak lagi terlihat. Pepohonan tampak sama. Batu-batu besar muncul di antara akar, sementara tanah semakin menurun.
Ia melompati sebuah batang pohon tumbang.
Kemudian berbelok ke kiri.
Suara geraman semakin dekat.
Kamandaka mencoba mempercepat langkahnya.
Ia pernah berlatih silat Cimande selama bertahun-tahun. Ia memahami bagaimana mengendalikan tubuh, menjaga keseimbangan, dan menghindari serangan.
Namun, semua itu tidak berarti apa-apa ketika berhadapan dengan seekor harimau yang hendak menerkamnya.
Ia tidak memiliki senjata.
Tidak ada tempat untuk berlindung.
Dan hutan itu seolah tidak memiliki jalan keluar.
Kamandaka terus berlari.
Hingga tiba-tiba tanah di bawah kakinya terasa rapuh.
Ia mencoba berhenti.
Terlambat.
Tanah itu runtuh.
Tubuhnya terlempar ke depan.
Kamandaka meraih akar yang menjulur dari tebing, tetapi akar itu patah.
Ia jatuh.
Batu-batu menghantam tubuhnya. Ranting-ranting menyambar wajahnya. Tasnya terlepas dari bahu.
Ia mencoba meraih sesuatu.
Tidak ada.
Jurang itu semakin dalam.
Untuk sesaat, Kamandaka melihat langit di atasnya.
Kemudian semuanya menjadi gelap.
Alam Perbatasan
Kamandaka membuka mata.
Kepalanya terasa berat.
Ada rasa sakit yang menjalar dari bahu hingga punggungnya. Ia mencoba bergerak, tetapi tubuhnya terasa lemah.
Di atasnya terdapat atap rumbia.
Ia berbaring di atas sebuah dipan bambu.
Di sudut ruangan, sebuah tungku kecil menyala. Asap tipis keluar melalui celah dinding. Bau kayu bakar memenuhi udara.
Kamandaka mengerjapkan mata.
Ia tidak mengenali tempat itu.
"Geuning tos hudang."
Sebuah suara tua terdengar dari sampingnya.
Kamandaka menoleh.
Seorang lelaki tua duduk di dekat tungku.
Janggutnya panjang dan putih. Rambutnya terurai hingga bahu. Ia mengenakan pakaian sederhana berwarna putih kusam, dengan sehelai kain yang dililitkan di pinggang.
Wajahnya penuh keriput.
Namun, matanya jernih.
Sangat jernih.
Kamandaka mencoba bangkit.
"Aduh..."
"Ulah buru-buru. Awak hidep masih leuleus."
Kamandaka kembali berbaring.
Ia memperhatikan lelaki tua itu.
"Ki, abdi di mana?"
Lelaki tua tersebut tersenyum tipis.
"Di tempat anu henteu sakuduna ku hidep didatangan."
Kamandaka mengerutkan kening.
"Maksudnya?"
Lelaki tua itu mengambil sebuah mangkuk kecil dari dekat tungku.
"Geus, inum heula."
Kamandaka menerima mangkuk tersebut.
Airnya terasa hangat.
Ia meminumnya perlahan.
Setelah beberapa saat, ia kembali bertanya.
"Ki, abdi tadi aya di jurang. Aya maung anu ngudag. Kumaha abdi tiasa aya di dieu?"
Lelaki tua itu tidak langsung menjawab.
Ia memperhatikan Kamandaka cukup lama.
Kemudian berkata,
"Hidep murag ka jurang, tapi lain jurang anu biasa."
Kamandaka terdiam.
"Naon maksudna, Ki?"
Lelaki tua itu meletakkan mangkuk.
"Hidep geus asup ka Rawayan Agung."
Kamandaka mengerutkan kening.
"Rawayan Agung?"
Lelaki tua itu mengangguk.
"Karajaan anu geus lila leungit ti dunya manusa."
Kamandaka mencoba mengingat kembali tulisan pada batu yang ditemukannya.
Rawayan.
Sebuah kerajaan yang tidak tercatat dengan jelas dalam sejarah.
Ia menatap lelaki tua itu.
"Ki, abdi henteu ngartos."
Lelaki tua itu tersenyum.
"Memang moal gampang kaharti ku jalma anu kakara datang."
Ia berdiri perlahan, lalu berjalan menuju pintu gubuk.
Di luar, kabut tebal menggantung di antara pepohonan.
"Hidep ayeuna aya di alam antara. Alam anu dijieun ku raja Rawayan Agung, Ki Buyut Sancang."
Kamandaka terdiam.
Lelaki tua itu melanjutkan.
"Di dieu, dunya manusa jeung dunya gaib silih watesan. Jalma anu asup ka dieu moal bisa kaluar deui, iwal ku idin sang raja."
Kamandaka menatapnya.
"Jadi... abdi teu tiasa mulih?"
Lelaki tua itu menggeleng perlahan.
"Can aya anu terang kumaha carana kaluar ti dieu."
Kamandaka merasakan dadanya sesak.
Ia teringat kampusnya.
Penelitian yang belum selesai.
Orang-orang yang menunggunya.
Dan dunia yang mungkin tidak akan pernah bisa ia temui lagi.
Ia mencoba bangkit.
"Abdi kedah mulih, Ki."
Lelaki tua itu menoleh.
Kamandaka menatapnya dengan mata yang mulai memerah.
"Abdi gaduh kulawarga. Abdi gaduh kahirupan di dunya manusa."
Lelaki tua itu terdiam.
Untuk pertama kalinya, wajahnya menunjukkan kesedihan.
"Abdi terang, Jang."
Ia berjalan mendekat.
"Abdi terang kumaha rasana hayang mulih."
Kamandaka menunduk.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan.
Kemudian lelaki tua itu berkata,
"Upami hidep hoyong salamet di dieu, hidep kedah diajar."
Kamandaka mengangkat wajah.
"Diajar naon, Ki?"
Lelaki tua itu menatapnya.
"Élmu anu moal kapanggih dina dunya hidep."
Ia tersenyum tipis.
"Élmu kanuragan."
Kamandaka terdiam.
Di luar gubuk, kabut semakin tebal.
Jauh di balik pepohonan, terdengar suara kentongan.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lelaki tua itu mendadak menoleh.
Wajahnya berubah.
Kamandaka memperhatikan perubahan itu.
"Ki?"
Lelaki tua tersebut mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Kamandaka diam.
Suara kentongan terdengar lagi.
Kali ini lebih dekat.
Lelaki tua itu berjalan menuju pintu.
Ia menatap kabut yang menyelimuti hutan.
Kemudian berbisik,
"Geus telat."
Kamandaka merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggungnya.
"Aya naon, Ki?"
Lelaki tua itu menoleh.
Matanya menatap Kamandaka dengan kesungguhan yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.
"Aranjeunna parantos terang yén hidep aya di dieu."
Kamandaka menelan ludah.
"Aranjeunna saha?"
Lelaki tua itu tidak menjawab.
Dari balik kabut, terdengar suara langkah kaki.
Banyak.
Teratur.
Seperti sekelompok prajurit yang sedang mendekati gubuk.
Kamandaka mencoba bangkit, tetapi tubuhnya masih terlalu lemah.
Lelaki tua itu mengambil sebuah tongkat kayu yang bersandar di dinding.
Kemudian ia berkata dengan suara rendah,
"Ti ayeuna, hidep ulah nyebutkeun yén hidep asalna ti dunya manusa."
Kamandaka menatapnya.
"Naon sababna?"
Lelaki tua itu menarik napas panjang.
"Sabab di Rawayan Agung, jalma anu datang ti dunya manusa téh dianggap mawa takdir anu matak cilaka."
Suara langkah kaki semakin dekat.
Lalu terdengar sebuah suara dari luar.
"Pandita! Kula di titah Ki Buyut Sancang, serahkeun jalma anu aya di jero!"
Bersambung ...
Comments ()