RAWAYAN AGUNG

RAWAYAN AGUNG

Ketika Dua Dunia Bertemu

Di balik rimbunnya hutan larangan, tersembunyi sebuah rahasia yang telah terkubur selama berabad-abad. Sebuah kerajaan manusia bernama Rawayan Agung, yang dahulu memiliki hubungan erat dengan kejayaan Pajajaran, ternyata tidak pernah benar-benar lenyap dari muka bumi. Melalui kekuatan spiritual Ki Buyut Sancang, kerajaan tersebut dipindahkan ke alam perbatasan antara dunia manusia dan dunia gaib. Terpisah dari dunia asalnya, Rawayan Agung tetap berdiri sebagai kerajaan dengan kehidupan, kebudayaan, dan kekuatan kanuragan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Berabad-abad kemudian, Kamandaka, seorang mahasiswa kehutanan sekaligus santri yang memiliki dasar ilmu silat Cimande, melakukan penelitian di sebuah hutan larangan. Sebuah kejadian tak terduga membuatnya tersesat hingga terjatuh ke dalam jurang. Namun, bukannya menemukan jalan pulang, ia justru terbangun di sebuah alam asing yang tak pernah terbayangkan sebelumnya: Rawayan Agung.

Kehadiran Kamandaka sebagai manusia dari dunia luar menimbulkan kecurigaan. Beruntung, seorang Pandita sakti meyakinkan Raja Rawayan Agung bahwa pemuda tersebut bukanlah ancaman. Sang Pandita bahkan menemukan keistimewaan dalam diri Kamandaka: tujuh titik cakra yang memancarkan aura biru, sebuah kekuatan langka yang konon pernah dimiliki oleh tokoh-tokoh besar dalam sejarah Sunda. Di bawah bimbingan sang Pandita, Kamandaka mempelajari berbagai ilmu kanuragan, tenaga dalam, dan jurus-jurus tingkat tinggi. Kecerdasan serta ingatan fotografisnya membuat ia mampu menguasai ilmu yang diwariskan gurunya dalam waktu yang luar biasa singkat.

Namun, Rawayan Agung bukanlah tempat yang sepenuhnya aman. Di balik ketenteraman kerajaan, sebuah kekuatan gelap perlahan menggerogoti rajah pemisah antara dua dunia. Jaya Antea, seorang pendekar misterius yang menguasai kujang hitam, mulai menjalankan rencana untuk mengguncang kekuasaan Raja Rawayan Agung. Bersamaan dengan itu, gangguan bangsa siluman semakin sering terjadi, menjadi pertanda bahwa keseimbangan alam mulai terancam.

Dalam perjalanan mencari jalan pulang, Kamandaka bertemu dengan Nyi Mas Purbasari, putri mahkota sekaligus satu-satunya keturunan Raja Rawayan Agung, beserta dua pengawalnya, Kinasih dan Katumbiri. Pertemuan yang diawali kesalahpahaman dan pertarungan justru menjadi awal dari hubungan yang akan menyeret mereka ke dalam pusaran konflik kerajaan.

Di antara rahasia tujuh cakra biru, warisan kejayaan Pajajaran, ancaman kujang hitam, dan misteri batas dua dunia, Kamandaka perlahan menyadari bahwa kedatangannya ke Rawayan Agung mungkin bukan sekadar kecelakaan.

Sebab, ada kekuatan besar yang telah menunggunya jauh sebelum ia mengenal nama kerajaan itu.

Ketika dua dunia mulai bertabrakan, mampukah seorang manusia biasa mengubah takdir sebuah kerajaan?