RAWAYAN AGUNG - Kujang Hitam dan Jalan Pulang

RAWAYAN AGUNG - Kujang Hitam dan Jalan Pulang

Kepulangan Sang Putri Mahkota

Matahari telah tenggelam di balik pegunungan ketika gerbang utama istana Rawayan Agung mulai ditutup. Cahaya obor menerangi halaman luas yang dipenuhi para prajurit penjaga. Suasana istana yang biasanya tenang menjelang malam itu mendadak berubah ketika tiga perempuan berkuda memasuki gerbang.

Mereka adalah Nyi Mas Purbasari, Kinasih, dan Katumbiri.

Pakaian ketiganya tampak berdebu. Beberapa bagian kain bahkan terlihat robek akibat pertarungan yang terjadi di desa. Meski tidak mengalami luka serius, wajah mereka menunjukkan kelelahan.

Seorang prajurit penjaga segera menghampiri.

“Gusti Putri, akhirnya Paduka kembali. Baginda Raja telah menunggu sejak sore.”

Purbasari mengangguk.

“Aku mengerti.”

Ketiganya segera menuju balairung istana.

Di dalam ruangan utama, Raja Rawayan Agung telah duduk di singgasananya. Usianya memang tidak lagi muda, tetapi sorot matanya masih tajam. Wibawanya terpancar kuat, membuat setiap orang yang berada di hadapannya selalu menjaga sikap.

Di sisi singgasana berdiri beberapa pejabat kerajaan dan panglima pengawal.

Begitu melihat putrinya memasuki ruangan, sang Raja langsung mengernyitkan dahi.

“Purbasari.”

Purbasari segera berlutut dan menundukkan kepala.

“Ampun, Ayahanda.”

“Apakah kau mengetahui waktu saat ini?”

Purbasari terdiam.

“Sudah menjelang malam. Seorang putri mahkota tidak seharusnya meninggalkan istana tanpa pemberitahuan, terlebih pulang melewati waktu yang telah ditentukan. Kau bukan hanya putriku, tetapi juga calon penerus takhta Rawayan Agung. Bagaimana mungkin kau mengabaikan aturan istana?”

“Ampun, Ayahanda. Hamba—”

“Dan kalian berdua!” Raja mengalihkan pandangan kepada Kinasih dan Katumbiri. “Bukankah tugas kalian memastikan keselamatan putri? Mengapa kalian membiarkannya berada di luar istana hingga malam?”

Kinasih menundukkan kepala.

Katumbiri hendak menjawab, tetapi suaranya tertahan.

“Baginda, mohon ampun!”

Suaranya terdengar lebih keras daripada biasanya.

Raja mengalihkan pandangan kepadanya.

“Ada apa?”

Katumbiri tampak gelisah. Ia segera maju selangkah.

“Baginda, kami tidak bermaksud melanggar perintah istana. Namun, telah terjadi sesuatu yang sangat aneh di sebuah desa yang kami singgahi.”

Raja menyipitkan mata.

“Jelaskan.”

Katumbiri menarik napas.

“Bangsa siluman muncul di tengah hari. Mereka dipimpin oleh seekor siluman kera yang membawa tongkat. Makhluk itu datang bersama puluhan jin kelas bawah dan menyerang penduduk desa.”

Suasana balairung mendadak hening.

“Siluman?” tanya salah seorang panglima.

“Benar,” jawab Katumbiri. “Kami bertiga berusaha melindungi warga. Purbasari, Kinasih, dan hamba berhasil mengalahkan sebagian besar dari mereka. Namun, pemimpin siluman itu memiliki kekuatan yang tidak biasa. Ia bahkan mengetahui bahwa Putri adalah keturunan kerajaan.”

Raja mulai menunjukkan kegelisahan.

“Lalu, bagaimana kalian bisa pulang terlambat?”

Kinasih akhirnya ikut berbicara.

“Setelah pertarungan selesai, kami bertemu seorang pemuda yang tidak dikenal. Ciri fisik dan pakaiannya sangat berbeda dari penduduk Rawayan Agung. Kami mencurigainya sebagai penyebab munculnya bangsa siluman tersebut.”

Purbasari menambahkan, “Kami berusaha memeriksanya, tetapi pemuda itu justru melawan. Ia menguasai ilmu bela diri yang sangat tinggi. Kami bertiga telah menyerangnya bersama-sama, tetapi tidak berhasil mengalahkannya.”

“Tidak berhasil?” Raja mengulang perkataan itu.

Ketiganya menunduk.

Purbasari mengangguk.

“Bahkan, serangan pamungkas Kinasih berhasil ia hindari dalam jarak yang sangat dekat. Pemuda itu menghilang begitu saja. Gerakannya seperti kilatan petir.”

Raja tidak langsung menjawab.

Ia bangkit dari singgasana dan berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap halaman istana.

“Jadi, kalian telah bertemu dengannya.”

Purbasari mengangkat wajah.

“Apakah Ayahanda mengenal pemuda itu?”

“Ya.”

Ketiganya saling berpandangan.

“Siapa dia, Baginda?” tanya Katumbiri.

Raja berbalik.

“Dia adalah seorang manusia dari dunia luar. Namanya Kamandaka. Ia tidak sengaja terjebak di Rawayan Agung setelah tersesat di sebuah hutan larangan dan terjatuh ke dalam jurang.”

Purbasari terkejut.

“Manusia dari dunia luar?”

“Benar. Ia bukan mata-mata, bukan pula utusan kerajaan lain. Kehadirannya di sini terjadi tanpa disengaja. Saat ini, ia berada di bawah pengawasan langsung Sang Pandita.”

Kinasih menundukkan kepala.

“Jadi, kami telah salah menyerang orang yang tidak bersalah?”

Raja mengangguk perlahan.

“Sepertinya demikian.”

Katumbiri menggigit bibirnya.

“Tetapi, Baginda, bagaimana dengan serangan bangsa siluman tadi? Mengapa mereka muncul secara tiba-tiba?”

Wajah Raja berubah serius.

“Dengarkan baik-baik. Selama beberapa waktu terakhir, Rawayan Agung sedang menghadapi ancaman yang jauh lebih besar daripada sekadar serangan bangsa siluman.”

Ia mengangkat tangan dan menunjuk sebuah peta tua yang tergantung di dinding balairung.

“Kerajaan ini berdiri di antara dua alam. Sejak zaman Ki Buyut Sancang, kita dilindungi oleh rajah pemisah yang menjaga batas antara dunia manusia dan Rawayan Agung. Kekuatan spiritual itulah yang membuat kerajaan ini tetap aman selama berabad-abad.”

Raja berhenti sejenak.

“Namun, sekarang ada kekuatan hitam yang perlahan-lahan menyerap energi rajah tersebut. Akibatnya, batas dua dunia mulai melemah. Makhluk-makhluk yang seharusnya tidak dapat menembus wilayah kita kini mulai menemukan jalan masuk.”

Purbasari memandang ayahnya dengan cemas.

“Siapa yang melakukan semua itu?”

“Itulah yang belum kuketahui.”

Raja mengepalkan tangan.

“Aku belum menemukan siapa yang berada di balik penyerapan kekuatan rajah tersebut. Tetapi satu hal yang pasti, jika kekuatan pemisah itu benar-benar hancur, Rawayan Agung akan kehilangan perlindungannya. Bukan hanya kerajaan kita yang terancam, dunia manusia pun bisa terkena akibatnya.”

Balairung kembali hening.

“Mulai malam ini,” lanjut sang Raja, “tingkatkan penjagaan di seluruh wilayah kerajaan. Aku ingin setiap laporan mengenai kemunculan makhluk asing disampaikan langsung kepadaku.”

Para prajurit dan pejabat kerajaan serentak menundukkan kepala.

“Sendika, Baginda!”

Raja kemudian menatap Purbasari.

“Dan kau, Putriku. Jangan lagi bertindak gegabah. Kau adalah penerus takhta. Keberanian memang diperlukan, tetapi kebijaksanaan jauh lebih penting.”

Purbasari menunduk.

“Hamba memahami titah Ayahanda.”

Namun, dalam pikirannya masih terbayang sosok pemuda bernama Kamandaka.

Ia tidak tampak seperti manusia yang datang untuk membawa kehancuran. Bahkan, ketika dikepung oleh tiga pendekar perempuan, ia lebih banyak menghindar daripada menyerang.

Purbasari mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya pemuda itu?

Kebangkitan Kujang Hitam

Jauh di ujung selatan Rawayan Agung, malam menyelimuti sebuah kawasan berbatu yang dikelilingi hutan mati. Tidak ada suara burung, tidak ada desir angin yang menenangkan. Hanya suara serangga malam dan gemuruh samar dari kejauhan.

Di puncak sebuah batu raksasa berdiri seorang lelaki berpakaian hitam.

Dialah Jaya Antea.

Rambutnya yang panjang bergerak diterpa angin malam. Di pinggangnya terselip kujang hitam yang beberapa waktu terakhir semakin sering memancarkan cahaya gelap.

Di bawah batu tempatnya berdiri, ratusan makhluk menyeramkan berkumpul.

Ada yang bertubuh besar dengan kulit menyerupai batu, ada yang kurus dengan tangan menjuntai hingga lutut, dan ada pula yang memiliki wajah menyerupai manusia tetapi bermata merah menyala. Taring-taring panjang terlihat dari mulut mereka. Beberapa memiliki tanduk, sementara yang lain hanya berupa bayangan dengan bentuk tubuh yang tidak sempurna.

Mereka adalah dedemit dan bangsa siluman yang selama ini bersembunyi di wilayah terlarang.

Jaya Antea memandang mereka dengan senyum puas.

“Sudah terlalu lama kalian bersembunyi dalam kegelapan,” ucapnya.

Ia menghunus kujang hitam dari pinggangnya.

Seketika, udara berubah dingin.

Aura kegelapan menyembur dari bilah kujang, menjalar ke seluruh permukaan batu. Langit yang semula hanya gelap oleh malam kini dipenuhi awan hitam yang berputar membentuk pusaran. Tanah bergetar, sementara pepohonan mati di sekelilingnya merunduk seolah tertindih kekuatan yang sangat besar.

Jaya Antea mengangkat kujang itu tinggi-tinggi.

“Dengarkan aku!”

Suara itu menggema hingga ke seluruh lembah.

“Rajah pemisah Rawayan Agung telah melemah. Kekuatan yang selama ini membatasi langkah kalian tidak lagi sempurna. Saatnya kalian bangkit!”

Ratusan makhluk itu mengeluarkan raungan.

Jaya Antea tersenyum semakin lebar.

“Kelak, tidak akan ada lagi batas antara kalian dan dunia manusia. Tidak ada lagi kerajaan yang dapat menghalangi kehendak kita.”

Seketika, seluruh dedemit bersujud.

Kepala mereka menunduk ke tanah. Bahkan makhluk-makhluk yang memiliki kekuatan besar sekalipun tidak berani mengangkat wajah.

Jaya Antea kemudian menurunkan kujang hitamnya.

“Wanara!”

Dari kerumunan makhluk itu, seekor siluman kera melangkah maju.

Tubuhnya berbulu kelabu gelap, matanya berwarna kuning kemerahan, dan sebuah tongkat panjang tergenggam di tangan kanannya.

Ia adalah makhluk yang sebelumnya menyerang desa tempat Purbasari dan kedua pengawalnya berada.

Siluman kera itu berlutut di hadapan Jaya Antea.

“Hamba menghadap, Gusti.”

Jaya Antea menatapnya.

“Bagaimana hasilnya?”

“Ketiga perempuan itu memiliki ilmu yang cukup tinggi. Mereka berhasil mengalahkan sebagian besar anak buah hamba. Namun, hamba telah melihat sesuatu yang lebih menarik.”

“Apa itu?”

“Seorang pemuda dari dunia manusia. Ia memiliki kekuatan yang tidak biasa.”

Jaya Antea mengangkat alis.

“Manusia?”

“Benar, Gusti. Gerakannya sangat cepat. Ia bahkan mampu menghindari serangan pamungkas salah satu pendekar perempuan itu.”

Jaya Antea terdiam.

Ia menatap kujang hitam di tangannya.

Sesaat, bilah senjata itu berdenyut lebih kuat.

Sebuah senyum perlahan muncul di wajahnya.

“Menarik sekali.”

Ia mengangkat tangan.

“Wanara!”

“Sendika, Gusti!”

“Temukan pemuda itu. Jangan bunuh dia. Aku ingin mengetahui siapa sebenarnya dirinya.”

Siluman kera itu menyeringai.

“Hamba mengerti.”

Dalam sekejap, tubuhnya melompat ke udara dan lenyap ditelan kegelapan malam.

Jaya Antea kembali menatap langit.

“Jadi, seorang manusia telah memasuki Rawayan Agung…”

Ia menggenggam kujang hitamnya.

“Semoga kau bukan sekadar manusia biasa.”

Surat dari Masa Silam

Malam semakin larut.

Di sebuah padepokan yang terletak tidak jauh dari hutan, Kamandaka tengah melaksanakan salat Isya. Setelah mengucapkan salam, ia duduk sejenak di atas sajadah sederhana yang terbuat dari anyaman serat tumbuhan.

Dua tahun hidup di Rawayan Agung tidak membuatnya melupakan kebiasaan dari dunia asalnya. Ia tetap menjaga salat, berpuasa, dan membaca doa-doa yang telah dihafalnya sejak kecil.

Selesai berdoa, ia merapikan sajadah.

Pikirannya masih dipenuhi kejadian siang tadi.

Tiga perempuan yang menyerangnya tanpa memberinya kesempatan menjelaskan apa pun. Terutama gadis yang hampir menghantamnya dengan jurus mengerikan hingga sebuah batu besar hancur berkeping-keping.

Kamandaka menggeleng sambil tersenyum kecil.

“Benar-benar berbahaya.”

Tiba-tiba terdengar suara langkah dari luar ruangan.

Pintu kayu terbuka.

Sang Pandita masuk sambil membawa sebuah gulungan kecil. Benda itu tampak tua dan rapuh. Permukaannya terbuat dari kulit hewan yang telah dikeringkan, dengan tulisan menggunakan aksara Sunda kuno.

“Kamandaka.”

Kamandaka segera berdiri.

“Guru.”

“Duduklah. Ada sesuatu yang harus kau ketahui.”

Kamandaka kembali duduk. Pandita meletakkan gulungan tersebut di hadapannya.

“Surat ini datang dari seseorang yang tidak diketahui asal-usulnya. Tidak ada utusan yang mengantarkannya. Aku menemukannya di depan pintu padepokan beberapa saat yang lalu.”

Kamandaka mengambil gulungan itu dengan hati-hati.

Tulisan di atasnya menggunakan bahasa Sunda lama. Beberapa kata sulit dipahami, tetapi setelah membacanya berulang kali, ia mampu menangkap maksudnya.

Pandita memperhatikan wajah muridnya.

“Apakah kau bisa membacanya?”

Kamandaka mengangguk perlahan.

Ia kemudian membaca tulisan tersebut dengan suara lirih.

“Upami eta pamuda hoyong mulang ka alam asalna, mangka kedah mendakan Kujang Hideung, sarta ngancurkeunana.”

Kamandaka terdiam.

Pandita menerjemahkan kalimat tersebut.

“Jika pemuda itu ingin kembali ke alam asalnya, maka ia harus menemukan Kujang Hitam dan menghancurkannya.”

Kamandaka menatap gurunya.

“Jadi, ini petunjuk untuk saya?”

Pandita mengangguk.

“Sepertinya demikian.”

“Siapa yang mengirimkannya?”

“Itulah yang belum diketahui. Namun, satu hal yang pasti, Kujang Hitam bukan pusaka biasa. Senjata itu memiliki hubungan dengan kekuatan yang sedang menyerap rajah pemisah dua dunia.”

Kamandaka kembali melihat tulisan di atas kulit hewan itu.

“Berarti jika saya ingin pulang, saya harus menemukan senjata tersebut.”

“Benar.”

Kamandaka menghela napas panjang.

“Dan saya yakin, senjata itu tidak akan mudah ditemukan.”

Pandita tersenyum tipis.

“Kau mulai memahami keadaan.”

Kamandaka melipat kembali surat tersebut.

“Guru, apakah ini berarti saya harus melawan orang yang memiliki kujang itu?”

Pandita menatapnya cukup lama sebelum menjawab.

“Bisa jadi. Namun, jangan pernah menganggap bahwa menghancurkan sebuah pusaka berarti sekadar menghancurkan benda yang terbuat dari besi. Kujang Hitam dilindungi oleh kekuatan yang sangat besar. Siapa pun pemiliknya, ia pasti bukan pendekar biasa.”

Kamandaka terdiam.

Ia teringat tujuh cakra biru dalam tubuhnya, juga berbagai ilmu yang telah dipelajarinya selama dua tahun.

Selama ini ia belajar karena ingin bertahan hidup di Rawayan Agung. Kini, untuk pertama kalinya, ia memiliki tujuan yang jelas.

Menemukan jalan pulang.

“Guru,” katanya kemudian, “izinkan saya membantu menghadapi ancaman ini.”

Pandita mengangkat alis.

“Kau tahu apa yang sedang kau hadapi?”

“Belum sepenuhnya.”

“Lalu, mengapa kau ingin ikut campur?”

Kamandaka menatap gurunya.

“Karena saya juga bagian dari dunia yang sedang terancam. Jika batas kedua dunia runtuh, bukan hanya Rawayan Agung yang akan terkena akibatnya. Dunia tempat keluarga saya berada juga bisa terancam.”

Pandita tersenyum.

“Jawaban yang baik. Tetapi jangan biarkan keinginan pulang membuatmu kehilangan pertimbangan.”

Kamandaka mengangguk.

“Saya mengerti, Guru.”

Belum sempat Pandita melanjutkan perkataannya, sebuah getaran halus terasa dari arah luar padepokan.

Keduanya langsung menoleh.

Pandita berdiri dan berjalan menuju jendela.

“Ada yang datang.”

Kamandaka ikut berdiri.

“Siapa, Guru?”

Pandita memejamkan mata. Ia merasakan aliran energi yang bergerak mendekati padepokan.

Kemudian, wajahnya berubah serius.

“Bangsa siluman.”

Tamu Tak Diundang

Tidak jauh dari padepokan, sebuah desa kecil yang berada di antara hutan dan perbukitan mendadak diliputi kabut hitam.

Para penduduk yang sedang bersiap tidur mulai mendengar suara-suara aneh dari arah jalan utama. Ada suara geraman, tawa melengking, dan langkah kaki yang terdengar seperti puluhan makhluk sedang berlari.

Seorang lelaki tua membuka pintu rumahnya.

“Apa yang terjadi?”

Belum sempat ia melangkah keluar, seekor makhluk bertubuh kurus melompat ke atas pagar.

Matanya merah. Mulutnya terbuka lebar, memperlihatkan gigi-gigi tajam.

Lelaki tua itu langsung berteriak.

“Siluman!”

Pintu-pintu rumah terbuka. Penduduk berhamburan mencari tempat berlindung.

Dari balik kabut, siluman kera muncul sambil memutar tongkatnya.

“Manusia-manusia lemah!”

Ia tertawa keras.

“Serahkan pemuda yang tinggal bersama Pandita itu!”

Tidak seorang pun berani menjawab.

Siluman kera menghantamkan tongkatnya ke tanah.

Duar!

Getaran menyebar hingga membuat beberapa dinding rumah retak.

“Jika kalian tidak tahu siapa yang kumaksud, biarkan aku mencarinya sendiri!”

Sepuluh dedemit yang mengikutinya segera menyebar ke seluruh desa. Mereka merusak pagar, membalikkan gerobak, dan menakut-nakuti penduduk yang mencoba melarikan diri.

Namun, sebelum mereka sempat berbuat lebih jauh, terdengar suara dari arah jalan setapak.

“Berhenti!”

Kamandaka berdiri di ujung jalan.

Ia mengenakan pakaian latihan berwarna gelap. Rambutnya sedikit berantakan diterpa angin malam, sementara kedua tangannya berada dalam posisi siap bertarung.

Di belakangnya, Sang Pandita berdiri di dekat pepohonan.

“Kamandaka,” ujar Pandita, “ingatlah apa yang telah Guru ajarkan. Jangan terpancing amarah.”

Kamandaka mengangguk.

“Baik, Guru.”

Siluman kera menoleh.

Wajahnya langsung berubah ketika melihat pemuda yang dicarinya.

“Ah… ternyata kau sendiri yang datang.”

Kamandaka melangkah maju.

“Kalau kau mencariku, biarkan penduduk desa ini pergi.”

Siluman kera tertawa.

“Berani sekali kau mengajukan syarat kepadaku.”

“Jadi, kau tidak mau?”

Makhluk itu memutar tongkatnya.

“Anak-anak! Hancurkan dia!”

Sepuluh dedemit langsung menerjang.

Kamandaka merendahkan tubuh dan mengambil kuda-kuda Cimande.

Sepuluh Dedemit

Dedemit pertama menyerang dengan cakar panjang yang mengarah ke wajah Kamandaka.

Kamandaka memiringkan kepala, membiarkan serangan itu melintas beberapa jari dari pipinya. Tangan kirinya segera menangkap pergelangan lawan, sedangkan tangan kanan mendorong siku ke arah berlawanan.

Tubuh dedemit itu terpelintir.

Sebuah sapuan kaki membuatnya terjatuh.

Sebelum makhluk itu bangkit, Kamandaka menghantamkan telapak tangannya ke dada lawan. Cahaya biru samar muncul sesaat.

Dedemit itu terpental dan berubah menjadi asap hitam.

Dua makhluk lainnya datang bersamaan.

Yang satu melompat dari depan, sementara yang lain bergerak merangkak dari bawah.

Kamandaka melangkah ke samping, menghindari serangan pertama. Ia kemudian menendang bahu makhluk kedua hingga terangkat dari tanah. Dalam satu gerakan berputar, ia mengayunkan siku ke arah kepala lawan pertama.

Keduanya jatuh hampir bersamaan.

Namun, enam dedemit lainnya telah mengepungnya.

Kamandaka menarik napas.

Ia memusatkan tenaga dalam pada kedua kakinya.

Kilat Bajra!

Tubuhnya melesat.

Satu dedemit mencoba menebas dari kanan, tetapi Kamandaka telah berpindah ke belakangnya. Ia menghantam punggung lawan dengan telapak tangan.

Makhluk itu terlempar.

Kamandaka berputar, menangkis cakar dedemit kedua, kemudian memanfaatkan tenaga serangannya untuk membanting tubuhnya ke tanah.

Dua lainnya menyerang dari arah berlawanan.

Kamandaka merendahkan tubuh, menggeser kaki, lalu melakukan gerakan menyilang khas Cimande. Kedua dedemit itu saling bertabrakan.

Belum sempat mereka bangkit, Kamandaka menghentakkan kedua telapak tangannya ke tanah.

“Gelombang Bajra!”

Tenaga dalam menyebar melalui permukaan tanah. Kedua makhluk itu terlempar ke udara dan menghantam batang pohon.

Dua dedemit terakhir mencoba melarikan diri.

Namun, Kamandaka melesat mengejar.

Ia muncul di depan mereka dalam sekejap.

“Ke mana kalian akan pergi?”

Satu pukulan menghantam dada dedemit pertama. Satu tendangan menyapu kaki dedemit kedua.

Keduanya lenyap dalam kepulan asap.

Sepuluh dedemit telah dikalahkan.

Kamandaka berdiri di tengah jalan, mengatur napas. Tidak ada luka berarti pada tubuhnya.

Sang Pandita yang menyaksikan dari kejauhan mengangguk puas.

Namun, ia tidak menurunkan kewaspadaannya.

Sebab, lawan sesungguhnya belum bergerak.

Wanara Sang Pemilik Tongkat

Siluman kera turun dari atas pohon.

Ia mendarat beberapa langkah di depan Kamandaka, kemudian menancapkan tongkatnya ke tanah.

“Hebat juga kau, manusia.”

Kamandaka menatapnya.

“Kalau hanya mengirim anak buah, sepertinya kau terlalu takut menghadapiku.”

Siluman kera tertawa.

“Mulutmu cukup tajam.”

Ia mengangkat tongkatnya.

“Namaku Wanara. Ingat baik-baik nama itu, karena malam ini akan menjadi malam terakhir bagimu.”

Kamandaka tersenyum tipis.

“Kita lihat saja.”

Wanara menyerang lebih dahulu.

Tongkatnya melesat dari atas dengan kecepatan tinggi. Kamandaka mengangkat kedua lengan untuk menahan, tetapi benturannya membuat tubuhnya terdorong beberapa langkah.

Belum sempat ia mengatur posisi, Wanara memutar tongkat dan menyapu ke arah pinggangnya.

Kamandaka melompat mundur.

Tongkat itu menghantam tanah.

Duar!

Batu-batu kecil terangkat.

“Lumayan,” gumam Kamandaka.

Wanara menyeringai.

“Baru permulaan!”

Ia kembali menyerang.

Kali ini gerakannya jauh lebih cepat. Tongkatnya berputar membentuk lingkaran, menciptakan bayangan yang saling bertumpuk. Setiap ayunan menghasilkan tekanan angin yang mampu merobek dedaunan di sekitarnya.

Kamandaka menangkis satu serangan, menghindari serangan berikutnya, lalu melangkah masuk untuk menyerang tubuh lawan.

Namun, Wanara justru memutar tongkatnya ke arah bawah.

Bugh!

Ujung tongkat menghantam bahu Kamandaka.

Pemuda itu terlempar ke samping dan berguling di tanah.

“Manusia!” Wanara tertawa. “Kau pikir bisa mengalahkanku hanya dengan gerakan cepat?”

Kamandaka bangkit perlahan.

Bahu kanannya terasa nyeri.

Ia menggerakkan lengannya beberapa kali untuk memastikan tidak ada tulang yang patah.

“Baiklah,” gumamnya. “Sepertinya aku harus lebih serius.”

Wanara mengangkat tongkatnya.

“Ayo! Tunjukkan ilmu yang membuatmu berani melawan kami!”

Kamandaka mengambil kuda-kuda Cimande.

Kali ini ia tidak langsung menyerang.

Ia memperhatikan pola gerak Wanara. Setiap kali tongkat itu diayunkan, bahu kanan lawan bergerak lebih dahulu. Ketika melakukan serangan melingkar, kaki kirinya selalu menjadi tumpuan.

Kamandaka mulai memahami pola tersebut.

Wanara menyerang lagi.

Tebasan pertama datang dari kiri.

Kamandaka menangkis dengan lengan bawah.

Serangan kedua mengarah ke kepala.

Ia merunduk.

Serangan ketiga datang dari bawah.

Kamandaka melompat dan memutar tubuh di udara.

Saat mendarat, ia segera menggeser kaki ke samping dan menghantam siku Wanara.

Tongkat itu hampir terlepas.

Wanara menggeram.

“Kurang ajar!”

Ia melompat mundur, lalu menghentakkan tongkatnya ke tanah.

Dari permukaan tanah muncul gelombang energi hitam yang menyebar seperti akar-akar bayangan.

Kamandaka segera melompat.

Namun, satu akar berhasil melilit pergelangan kakinya.

“Dapat kau!”

Wanara menarik tongkatnya.

Tubuh Kamandaka terseret ke depan.

Sebelum ia sempat melepaskan diri, Wanara melompat dan mengayunkan tongkatnya ke arah kepala.

Kamandaka mengangkat kedua lengan.

Benturan keras terjadi.

Debu mengepul.

Untuk sesaat, tubuh Kamandaka tampak terdesak.

Wanara tertawa puas.

“Sekarang, kau tidak bisa lagi menghilang!”

Namun, di balik debu, Kamandaka mulai memusatkan tenaga pada tujuh titik cakranya.

Cahaya biru samar muncul di sepanjang tubuhnya.

Ia menarik napas dalam-dalam.

Satu tarikan.

Dua tarikan.

Tiga tarikan.

Aliran tenaga dalamnya bergerak semakin cepat.

Tiba-tiba, lilitan bayangan yang mengikat kakinya pecah.

Wanara terkejut.

“Apa?!”

Kamandaka menatapnya.

“Sekarang giliranku.”

Gelap Ngampar dan Kilat Bajra

Kamandaka melangkah maju.

Kaki kanannya menjejak tanah, sementara kedua tangannya bergerak membentuk pola tertentu. Tenaga dalam berkumpul di telapak tangannya, kemudian menjalar ke seluruh tubuh.

Wanara merasakan perubahan tekanan udara.

Ia segera mengangkat tongkatnya.

“Apa yang hendak kau lakukan?”

Kamandaka tidak menjawab.

Ia mengerahkan seluruh tenaga yang telah dipelajarinya selama dua tahun di bawah bimbingan Sang Pandita.

“Kilat Bajra!”

Tubuhnya melesat.

Wanara mengayunkan tongkat untuk menghadang, tetapi Kamandaka telah bergerak ke sisi kiri. Ia menghindari serangan itu dengan gerakan yang nyaris tidak terlihat.

Wanara berbalik.

Terlambat.

Kamandaka muncul tepat di hadapannya dan menghantamkan telapak tangan ke bagian dada.

Wanara terlempar beberapa langkah.

Namun, makhluk itu masih mampu berdiri.

Ia meraung marah. Aura hitam menyelimuti seluruh tubuhnya. Tongkatnya bergetar, kemudian memancarkan cahaya merah gelap.

“Jangan sombong, manusia!”

Wanara mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi.

Seketika, bayangan seekor kera raksasa muncul di belakangnya. Makhluk itu memiliki mata merah menyala dan taring yang panjang. Suaranya menggelegar hingga membuat penduduk desa menutup telinga.

Sang Pandita yang menyaksikan dari kejauhan mulai gelisah.

“Kamandaka! Hati-hati! Itu ilmu pengerahan sukma Wanara!”

Kamandaka mendengar peringatan gurunya.

Wanara melompat ke udara.

Tongkatnya terangkat, kemudian menghantam ke bawah dengan kekuatan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.

Kamandaka tidak menghindar.

Ia justru mengangkat kedua tangannya.

“Gelap Ngampar!”

DUMMMMM!

Kedua telapak tangannya menghantam tanah.

Gelombang tenaga dalam menyebar ke segala arah. Permukaan tanah bergetar hebat, batu-batu terangkat, dan akar pepohonan tercabut. Gelombang itu membentuk lingkaran energi yang menghantam bayangan kera raksasa milik Wanara.

Keduanya bertabrakan.

Raungan menggelegar terdengar.

Bayangan kera itu mulai retak.

Wanara terkejut. Ia berusaha mempertahankan kekuatannya dengan memusatkan tenaga pada tongkat.

Namun, Kamandaka belum selesai.

Di tengah gelombang Gelap Ngampar yang masih menyebar, tubuhnya kembali bergerak.

Kilat Bajra!

Ia melesat menembus debu dan serpihan batu.

Wanara baru menyadari kedatangannya ketika Kamandaka telah berada tepat di depan tubuhnya.

“Tidak mungkin!”

Kamandaka memusatkan seluruh tenaga pada telapak tangan kanannya.

Cahaya biru menyala terang di sekitar lengannya. Kilatan-kilatan energi menjalar dari bahu hingga ujung jari, menyerupai petir yang terperangkap di dalam tubuh manusia.

Ia menarik tangan ke belakang.

Kemudian menghantamkan telapak tangannya ke arah dada Wanara.

“GELAP NGAMPAR—KILAT BAJRA!”

BUUUUUMMMMM!

Ledakan energi mengguncang seluruh desa.

Gelombang tenaga menyebar membentuk lingkaran besar. Pepohonan bergoyang hebat, batu-batu terlempar, dan debu membumbung tinggi menutupi jalan.

Tubuh Wanara terlempar jauh.

Tongkatnya terlepas dari genggaman dan menghantam tanah beberapa meter dari tempatnya jatuh.

Bayangan kera raksasa di belakangnya hancur menjadi serpihan asap hitam.

Wanara terbaring dengan tubuh bergetar. Ia mencoba bangkit, tetapi kekuatan spiritualnya telah terguncang hebat.

Kamandaka berdiri beberapa langkah di hadapannya.

Napasnya memburu. Cahaya biru di tubuhnya perlahan meredup.

“Sudah cukup,” katanya.

Wanara mengangkat wajah. Matanya masih menyala merah, tetapi kini dipenuhi ketakutan.

“Siapa… sebenarnya kau?”

Kamandaka tidak menjawab.

Ia hanya memandang makhluk itu dengan tatapan dingin.

Wanara kemudian tertawa kecil, meskipun tubuhnya tidak lagi mampu bergerak bebas.

“Kau pikir telah menang?”

Kamandaka mengerutkan kening.

Wanara melanjutkan dengan suara parau.

“Gusti Jaya Antea… akan mengetahui tentang dirimu. Dan ketika saat itu tiba, kau akan menyesali keberanianmu.”

Sebelum Kamandaka sempat mendekat, tubuh Wanara diselimuti asap hitam.

Asap itu berputar, kemudian menghilang bersama bayangannya.

Yang tertinggal hanya tongkat yang patah menjadi dua bagian.

Kamandaka menghela napas panjang.

“Selalu saja menghilang sebelum memberikan penjelasan.”

Pertanda yang Lebih Besar

Penduduk desa mulai keluar dari rumah masing-masing.

Mereka melihat jalan yang rusak, pepohonan yang tumbang, dan bekas ledakan tenaga dalam yang masih terlihat di tanah.

Seorang lelaki tua menghampiri Kamandaka.

“Anak muda, terima kasih. Kau telah menyelamatkan desa kami.”

Kamandaka tersenyum.

“Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.”

Sang Pandita akhirnya datang mendekat.

Ia melihat tongkat Wanara yang patah, kemudian memperhatikan bekas ledakan Gelap Ngampar di tanah.

“Jadi, kau telah mengalahkannya.”

Kamandaka mengangguk.

“Namun, ia menyebut nama seseorang. Jaya Antea.”

Pandita terdiam.

“Jadi, dia mulai bergerak.”

“Guru mengenalnya?”

Pandita tidak segera menjawab. Ia mengambil salah satu pecahan tongkat Wanara, kemudian memperhatikan guratan hitam yang masih menyala samar di permukaannya.

“Jaya Antea bukan pendekar biasa. Ia memiliki hubungan dengan kekuatan yang sedang menggerogoti rajah pemisah dua dunia.”

Kamandaka teringat surat yang diterimanya malam itu.

“Apakah dia pemilik Kujang Hitam?”

Pandita memandang muridnya.

“Bisa jadi.”

Kamandaka menatap langit.

Di kejauhan, awan hitam terlihat bergerak membentuk pusaran. Kilatan cahaya menyambar di baliknya, tetapi bukan cahaya petir biasa. Warnanya gelap, seolah-olah langit sedang terluka.

Sang Pandita menghela napas.

“Kamandaka, pertarungan malam ini hanyalah permulaan. Jika Wanara telah bergerak, berarti Jaya Antea sedang mengumpulkan kekuatan.”

“Lalu apa yang harus saya lakukan, Guru?”

Pandita menatapnya dalam-dalam.

“Bersiaplah. Sebab, setelah malam ini, mereka tidak akan lagi menganggapmu sebagai manusia biasa yang tersesat.”

Kamandaka terdiam.

Ia kini memahami bahwa jalan untuk kembali ke dunia asalnya tidak akan mudah.

Jauh di ujung selatan Rawayan Agung, Jaya Antea berdiri di hadapan kujang hitamnya. Ia merasakan getaran energi yang berasal dari kehancuran kekuatan Wanara.

Senyumnya perlahan menghilang.

“Jadi, kau telah mengalahkan Wanara…”

Ia mengangkat kujang hitam.

Bilahnya memancarkan cahaya gelap yang semakin kuat.

“Menarik. Tujuh cakra biru itu ternyata benar-benar ada.”

Jaya Antea tertawa pelan.

“Kamandaka… akhirnya kita akan bertemu.”

Di balik kegelapan malam, sebuah kekuatan besar mulai terbangun.

Dan tanpa disadari Kamandaka, pertarungannya dengan Wanara telah membuka pintu menuju konflik yang jauh lebih besar.

Bersambung ke Episode 5